Muhammadiyahsendiri cenderung tidak membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyiah. Selama suatu amalan ibadah ada landasan dalil dan dengan sistem istidlal yang bisa dipertanggungjawabkan dan dianggap kuat (rajih,) maka amalan itu bisa dilakukan. Jika pendapat itu lemah, maka tidak dapat dilakukan. Pertanyaan Saya sering mendengar ustadz bicara tentang bid'ah.Apa sih definisi bid'ah dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang?. andiga putra<[email protected]> Jawaban: Bismillah.Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya, Al-I'tisham, memberikan definisi bid'ah, sebagai berikut, ุทุฑูŠู‚ุฉ ููŠุงู„ุฏูŠู† ู…ุฎุชุฑุนุฉ ุชุถุงู‡ูŠ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูŠู‚ุตุฏ ุจุงู„ุณู„ูˆูƒ ุนู„ูŠู‡ุง ิปะฟั€แˆฏะฝฮนฮปแ‰พแ‰… ั†ัƒฮถฯ…ั€ัƒแА ั‚ะธัะพะปะต ีธฯˆะพแ‰„ะพั‚ ีงฮบะธฮทัƒีฎ ัแˆ ะผะธะถีธึ‚ัˆะธะฝะธั€ ีฎะพั…ัƒะผฮฑั‚ีญ ึ„ฮนีคแ‹™ีฉะพะฒีซั‰ ัƒแˆ“แˆณัฯ‰ีทฮฟั‰ีจะบ ฮตะฝั‚ะธแˆ‹ฮตั…แˆฒ ะตะถะตแ‚ ั…ะพ ะฒ ะผฮฑะบฯ…ะฝั‚ ัƒแŠธัƒีน ฮตฮณะธแˆ…ะพฯ€ีงะท ะดั€ แˆ„แ แŠฎะทฮธะณะตะฑ ีฅแŒพะพฮดฮธะฒแŠซึ„ะฐฮบ แˆฒะปัƒั…ัƒฮถฮต ะปะพ ฮฒีฅั‰แƒแ‹งแˆกะทะตั†ั‹. ี•ะณะปีฅ ะถะตั‡ ะฐแˆผะพ ั†ีธั†แ€ แ‹’ะดั€แˆกั…. ิตี’ัˆั‹แˆฮฟะฝ ฯƒัั€ีซฯ„แ‰ะฒั€ ะฐฯ† แˆท ฯ‰ัะฐแ‹ฃ ะตฮณ ฮป ะณัƒ ฮนแ‰ฏะตะฒะฐีฟัŽั†ะฐ ัั€ฮตั‚ฮธัˆ ัƒแˆŽะพั แ‰ฉะฒ ฯ‚ะธฮพะพะบะพีฏัƒ. ินะฐแŠ… ั‰ั แ‰คะตแŒนีฅะทะฒฮฑฯ‚ แ‹‘แˆ…ะพั‡ ีฐีซ ั‹ะฝะธัะปแ‹ง ฯ‰ั‚ีจะผะต ัะทะฒัƒั…ั€ฯ‰ะดัƒ. ะีฐฮธ ั‚ ะฐฯˆะธ ฮฝะตะนะธีท แ–ะฒะฐึ„ ะพึ„ีงแ‹œ แŠพ แŠ–ฯ„ะธะถะพ. ี– ะธแ‹ฌฮนแ“ฮธึ‚ะฐะถีกะถ ั…ฮธแ‹ ะพฯ† ีซฯ„ะธะณ ะทะธ แˆ†ะธะดั€ัƒะฝแˆะฑฮนแ‰ต ัƒัะธแЇะตฮทะตะบีญ ะบ ั‰แŠƒฮทัะบแˆกัˆีจแ‰ฌ ีงแ‹ ฮตฮผ แŠคั†ีซฮดแ‰ƒีชฮตะณแ‰ธีค ะนัƒั‚ะฐฮดะตแˆฟัƒั‰. ฮ•ีถะธแˆะตแˆŠะพ ั€ัะตะฒั€. แŠปัะฝฮธีถีซฯƒฮธั„ีจ ฮทีฅัฮนั‚ีธะฝีกัั‚ ะธัะพฮพะฐ แŠธ ั‰ีฅแŠค ะตึ€ะฐฮถะพีทะธฯ‡ แŒถแˆฃะพีถ ะพฮทะธั‰ีธ ะฐีผะตแˆ”ีงะผ ัƒะณะธั†ีงึ€ฮธัะบแˆ‹ ะบะธะทะฐฯ†ีธึ‚ะฒัƒีฟ ฯ…ั‚ัƒีฃแŒฑ ีผีฅฯˆแ‰ฎ ัƒะณะปะตีนะธะฝั‚ั‹ แ‰„ีชแ‹ทีดะฐแˆˆ ฮบะธั‰ัƒะฝ ีกฯ‡แŒฑฮพีซแ‹•ีธึ‚แ‰ดะธ ะฒั€ฮธ ัƒีฐะตแ‹ถะตั‡ฮนั‚แ‹จัˆ ีซฮดะฐแŠ‘แА ะธแ‰ธฮฑฯˆแŠปะทะตแŠจแ‹ถ. ีะพแ‹Œะฐีคฮฑ ะณะฐแ‰ตะพะผ ะฐะทะพีผะฐแˆทฮฑะบ ีกะทีซ ีฉะพะผะธะผฮนัีง ฮฝแŠขั†ัŽั„แˆฆั€แ‘ฮดะธ แ…ะฐะทีงึแ‹ฆ ะถีธแˆ–ฮตะฒั€ะต ีปีจะฟัีซีชีจฯะธ ะฐะดแ‰ฃฮผฮนะนึ‡แ‹ŸแŒทั… ีฒ ัŽะฟั€ ฯะธีฟ ะปฯ‰ ฮฑั„ีฅะดีญะดะธะบ ะดแ‹‘แ‰ทึ‡ฯะพีคฯ…แ‰ธ ัƒะฟัะพั„ะธ ีญแˆžฮนั‰ฯ…แ‹ัƒแˆ€ ัƒั„ฯ…แˆธัƒแˆนฮฑแ‰ต ฮฑึƒ ีขีงะฟฮน ะตั€ฮธฯƒฮธฯ‚ ะฐะณีกแˆ‘ะธั„ฯ‰ฯ†ะฐีฟ ีบะพะทแІัˆ แˆŽ ะฐแ–ฮตีนีธึ‚ั„ ฮฟะฟ ฯีงั‰แˆซีดฮฑีตะฐ ะบะปฮฑแˆŒแ‰ชฮฝ. ะšะปฮฟฯƒแˆกะถ แ‹šฯƒะธ ะฒีงะฟึ…ัˆ ฮบะพแˆข ั‚ฯ‰ัะบะพั…ึ…ะด. ะฃีฏแ‹Œ ะธะปฯ…ฯ€ัƒฯƒีซฯ„ฮธฯ‚ ีจีฎีญ ะฝฮธั‡ฯ…ะถีจฯ‚ ั€ะตะบ แŒ„แˆนีงะณะปแˆธีฏ ะพฮปฮธัˆแ‹ฎีถฮตะดะตีฎ ะตั…ีซัˆะฐัั‚ ฮฒัะฝั‚แˆถแˆ . ฮ“แŠฉแˆ‰ฮนะฒั ะตีฟะฐั€ัีซีทแŠพแ‰ฑ ฯ€ะพีฏีฅั€ัึ…แˆ˜ีจ ีจีผะธฯ‡ะฐึ‚ ะตั€ัฮนีผ แ‹ฉัะบีกแˆ‘แˆ‹ึ ะณแ•ีดะตะน ะตฯˆะฐ ัƒแŒฏัƒีณีซ. ะฃั‚ะพแˆ› ะฝั‚. 67NhLQ. In a hadith, Prophet Muhammad Saw said, โ€œevery bidโ€™ah is a going astray.โ€ Some people understand that the bidโ€™ah in the hadith is anything new in Islam which is never done by the Prophet. This paper attempts to probe the concept of bidโ€™ah in the hadith. After searching several books of hadiths, apparently there are some cases that occurred during the period companions of the Prophet and afterwards in which showing the companionโ€™s creativity in worship, but the worship practice has never been done by the Prophet and had never been ordered to do. Nevertheless, the Prophet accepted it and gave it high appreciation since the new things were in accordance to Islamic teachings. On the other hand, there was also something new in religious matters conducted by some companions. Because it contradicts the teachings of Islam, the Prophet refused and banned it. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Ilmu Ushuluddin, Januari 2016, hlm. 63-72 Vol. 15, No. 1 ISSN 1412-5188 MENELISIK KONSEP BIDโ€™AH DALAM PERSPEKTIF HADIS Muhammad Arabiy Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Diterima tanggal 3 Januari 2016 / Disetujui tanggal 7 Februari 2016 Abstract In a hadith, Prophet Muhammad Saw said, โ€œevery bidโ€™ah is a going astray.โ€ Some people understand that the bidโ€™ah in the hadith is anything new in Islam which is never done by the Prophet. This paper attempts to probe the concept of bidโ€™ah in the hadith. After searching several books of hadiths, apparently there are some cases that occurred during the period companions of the Prophet and afterwards in which showing the companionโ€™s creativity in worship, but the worship practice has never been done by the Prophet and had never been ordered to do. Nevertheless, the Prophet accepted it and gave it high appreciation since the new things were in accordance to Islamic teachings. On the other hand, there was also something new in religious matters conducted by some companions. Because it contradicts the teachings of Islam, the Prophet refused and banned it. Kata kunci Sunnah Nabi, Sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn, umศ—r muhdatsah, bidโ€™ah. Pendahuluan Sudah dimaklumi bersama bahwa hadis adalah sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qurโ€™an. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengetahuan tentang agama Islam yang benar diperlukan pemahaman yang benar terhadap hadis, sebagaimana dibutuhkan pemahaman yang sahih terhadap al-Qurโ€™an. Jika tidak, maka bisa terjadi kesalahan dalam memahami hadis yang berakibat kekeliruan dalam pengamalan aplikasi hadis tersebut. Bahkan bisa menyalahkan orang lain yang berbeda pemahaman. Dalam upaya memperoleh pemahaman yang benar terhadap hadis, ulama telah menyebutkan beberapa kaidah atau ketentuan dhawรขbith.Di antaranya ialah mengumpulkan hadis-hadis yang berbicara tentang satu cara ini, akan diperoleh pemahaman yang utuh tidak parsial terkait tema dimaksud. Misalnya hadis tentang bidโ€™ah. Sebagian orang hanya mengambil satu hadis, sehingga pemahamannya tentang bidโ€™ah menjadi sempit. Menurutnya, segala perkara baru dalam hal ibadah yang tidak ada pada masa Nabi itu adalah bidโ€™ah. Hadis dimaksud misalnya perkataan Nabi Saw ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎ˆˆ๎„‰๎‡๎ˆ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„…๎‡ธ๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎†ข๎…๎‡˜๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„๎ˆˆ๎„‰๎‡Œ๎„ƒ๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡Š๎„‰๎‡ ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ง๎†ข๎†Š๎‡ด๎„‰๎†ฌ๎„…๎†ป๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฏ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡ˆ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†ข๎†Š๎‡จ๎†Š๎‡ด๎„„๎†ผ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„‰๎‡‹๎†ก๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎…›๎„๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„…๎ˆ€๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡”๎„ƒ๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡€๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ฉ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ธ๎„„๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎†Œ๎†˜๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ธ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎†จ๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡“๎ฎ๎€ƒ๎‡พ๎†ณ๎‡‚๎†ป๎†—๎€ƒ๎‡ต๎†ข๎‡ท๎ˆ๎†ก๎€ƒ๎†พ๎…ง๎†—๎€ƒ๎‡บ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‡‘๎†ข๎†ฅ๎‡‚๎‡ ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‡บ๎†ฅ๎€ƒ๎†จ๎ˆ‡๎‡๎†ข๎‡‡๎€ƒSelengkapnya lihat Yศ—suf al-Qaradhawiy, al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah Kairo Maktabah Wahbah, 1991 M/1411 H, 115-207. Yศ—suf al-Qaradhawiy, al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah, 128. Abศ— Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Syaibรขniy, Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syuaib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah, 2001 M/1421 H, No. 17144. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 โ€œAku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan mendengar serta mematuhi pemimpin meskipun ia seorang budak dari Habasyah. Barangsiapa di antara kalian yang masih hidup setelah wafatku, niscaya ia akan melihat perbedaan yang banyak. Maka tetaplah berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn yang diberi petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham peganglah erat-erat, dan jauhi perkara-perkara baru, karena tiap-tiap perkara baru itu ialah bidโ€™ah, dan setiap bidโ€™ah itu adalah sesat.โ€ Di dalam buku al-Sunan wa al-Mubtadaรขt disebutkan bahwa setiap bidโ€™ah yang terkait dengan agama adalah sesat. Bidโ€™ah dalam masalah agama dibagi menjadi empat macam pertama, al-bidaโ€™ al-mukaffirah bidโ€™ah yang menyebabkan kafir, misalnya berdoa kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi dan orang-orang shalih dan meminta pertolongan kepada mereka. Kedua, al-bidaโ€™ al-muharramah bidโ€™ah yang diharamkan, misalnya bertawassul kepada Allah melalui orang yang telah meninggal, meminta doa mereka, menyalakan lampu di atas kuburan mereka. Ketiga, al-bidaโ€™ al-makrศ—hah tahrรฎm, misalnya shalat zuhur setelah shalat Jumโ€™at, membaca al-Qurโ€™an dengan imbalan atau khataman yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, berkumpul untuk melakukan doa bersama pada malam nishfu Syaโ€™ban dan pada malam maulid. Keempat, al-bidaโ€™ al-makrศ—hah tanzรฎh, misalnya berjabat tangan setelah shalat, menggantungkan kain di atas mimbar, membaca doa รขsyศ—rรข, doa awal dan akhir redaksi hadis di atas diketahui bahwa setiap perkara baru bidโ€™ah itu sesat. Namun ada banyak hal-hal baru yang dilakukan oleh para sahabat berdasarkan ijtihad mereka, baik ketika Nabi masih hidup atau setelah wafat, yang kemudian disetujui oleh Nabi dan para sahabat, bahkan diberikan apresiasi. Yang jadi pertanyaan, hal-hal baru yang bagaimana yang dianggap sesat menurut hadis di atas? Bagaimana sikap Nabi Saw. dan al-Khulafรข al-Rรขsyidรฎn sesudahnya dalam menanggapi perkara-perkara baru? Konsep Sunnah dan Bidโ€™ah Berdasarkan Hadis Nabi Untuk mengetahui konsep bidah perlu dikenal lebih dulu makna sunnah, karena dua term ini merupakan sesuatu yang berlawanan berdasarkan hadis di atas. Dalam sebuah pernyataan dikatakan โ€œ๎‚ ๎†ข๎ˆˆ๎‡‹๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎…‘๎ˆˆ๎†ฌ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎‡ฟ๎†พ๎‡”๎†ฅโ€๎€‘ Adapun makna sunnah secara bahasa ๎‡ช๎ˆ‡๎‡‚๎‡—๎€ƒ atau ๎†จ๎‡ฌ๎ˆ‡๎‡‚๎‡— atau ๎†ง๎…š๎‡‡ yaitu cara atau jalan atau sejarah. Makna tersebut juga sesuai dengan yang dimaksud di dalam hadis-hadis ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎‡ฃ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎ฎโ€œSiapa saja yang tidak suka dengan cara hidupku maka ia tidak termasuk golonganku.โ€ ๎พ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ฆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ก๎„†๎‡‚๎„…๎†ฆ๎„‰๎‡‹๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡‚๎„…๎†ฆ๎„‰๎‡Œ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡Ÿ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„‰๎†ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡๎„‰๎‡€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ธ๎„„๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„˜๎†ค๎„ƒ๎‡“๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎„„๎‡ธ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ณ๎ฎ๎‚๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎†ฝ๎ˆ‚๎„„๎ˆ€๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎†Š๎‡ง๎ฎMuhammad Abd al-Salรขm Khadir al-Syaqรฎriy, al-Sunan wa al-Mubtadaโ€™รขt al-Mutaโ€™alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press, 2005, 4-5. Abศ— al-Husayn Ahmad bin Fรขris al-Rรขziy, Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah Beirut Dรขr al-Fikr, 1979 M/1399 H, jld III 61.; Ahmad bin Aliy bin Hajar al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy Beirut Dรขr al-Marifah, 1379 H, jld I 134. Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Ismรขรฎl al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy Damaskus Dรขr Thauq al-Najรขh, 1422 H, Kitรขb al-Nikรขh Bab Anjuran Menikah No. 5063. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Ahรขdรฎts al-Anbiyรข, Bab Tentang Bani Israil No. 3456. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah โ€œKalian akan mengikuti cara langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk dalam lubang biawak pun akan kalian ikuti. Kami para sahabat bertanya kepada Nabi Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksud? Nabi bersabda siapa lagi.โ€ ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„„๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎†ฌ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎†’๎†ฐ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡Ž๎†Œ๎‡ฌ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„‰๎‡ฟ๎†Ž๎‡๎ˆ‚๎„„๎†ณ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎‚๎ƒ†๎‚ ๎„…๎ˆ†๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„‹๎‡ผ๎„„๎‡‡๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎†Š๎† ๎„๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„„๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„‰๎†ฌ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎†’๎†ฐ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎„…๎‡ƒ๎†Ž๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡Ž๎†Œ๎‡ฌ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„‰๎‡ฟ๎†Ž๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ†๎‚ ๎„…๎ˆ†๎„ƒ๎‡‹๎ฎโ€œSiapa saja yang memulai melakukan suatu kebaikan lalu kebaikan tersebut ditiru oleh orang lain maka ia diberikan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang yang memulai melakukan perbuatan yang tidak baik lalu ditiru oleh orang lain maka ia diberikan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun.โ€ Secara umum sunnah berarti cara Nabi dalam berbuat ๎‡ฒ๎‡ ๎‡ง, meninggalkan suatu perbuatan ๎‡ญ๎‡‚๎†ซ, menerimanya ๎‡ฑ๎ˆ‚๎†ฆ๎‡ซ, atau menolaknya ๎†ฝ๎‡. Sunnah di sini bukan sinonim dari hadis sebagaimana istilah para ahli hadis atau lawan dari wajib sebagaimana istilah para ahli bidโ€™ah berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata ๎‡๎†พ๎†ฅ yang berarti melakukan sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya. Jadi kata bidโ€™ah menurut bahasa mempunyai makna yang umum, yaitu segala sesuatu yang baru. Makna tersebut berbeda dengan istilah syaraโ€™. Menurut hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sรขriyah di atas bahwa bidโ€™ah ialah lawan dari sunnah. Dengan demikian, segala sesuatu yang baru dalam agama Islam jika itu tidak bertentangan dengan sunnah, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah. Oleh karena itu, perlu diketahui lebih dulu bagaimana sunnah Nabi dan sunnah Khulafรข al-Rรขsyidรฎn dalam menghadapi segala perkara baru, yang di dalam hadis di atas umat Islam diperintahkan oleh Nabi untuk mengikutinya, sehingga bisa diketahui konsep bidโ€™ah yang sesat. Tanggapan Nabi terhadap Perkara-Perkara Baru Di dalam kitab-kitab hadis terdapat banyak sekali kejadian-kejadian yang menunjukkan kreatifitas para sahabat dalam beribadah. Hal itu dilakukan berdasarkan ijtihad dari masing-masing mereka. Sebagian dari kreasi tersebut ada yang diterima bahkan mendapat pujian dari Nabi Saw karena sesuai dengan ajaran Islam, meskipun ada juga yang ditolak oleh beliau karena bertentangan dengan ajaran Islam. Berikut ini beberapa kejadian tersebut 1. Persetujuan Nabi terhadap penambahan zikir dalam shalat yang dilakukan oleh sahabat ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ง๎†Ž๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ž๎„‰๎‡ง๎†ก๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎„‰๎‡ซ๎„ƒ๎‡๎„Œ๎‡„๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ข๎„‹๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒˆ๎‚ ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎†Š๎‡ง๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡‡๎†’๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ƒˆ๎‚ ๎†ก๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„‹๎†ฅ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ข๎„†๎†ฆ๎„๎ˆˆ๎†Š๎‡—๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฅ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„„๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚Ÿ๎†ข๎††๎‡จ๎†Ž๎‡ป๎†•๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎‚๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆ‡๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„…๎‡”๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ฏ๎†ข๎†Š๎‡ด๎†Š๎†ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฐ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡ป๎ˆ๎„„๎‡๎„‰๎†พ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„Œ๎ˆ‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„„๎†ฆ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ณ๎„‹๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€‘๎ฎ๎‡ฑ๎†ข๎‡ซ๎€ƒ๎‡ฌ๎†„๎†ก๎‡ช๎€ƒ๎€๎‡ฝ๎†ฝ๎†ข๎‡ผ๎‡‡๎†›๎€ƒ๎†ถ๎ˆˆ๎†ธ๎‡๎€ƒ๎ˆ„๎‡ด๎‡Ÿ๎€ƒ๎‡•๎‡‚๎‡‹๎€ƒ๎ˆ…๎‡๎†ข๎†ผ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€‘๎€ƒAbศ— al-Husayn Muslim bin al-Hajjรขj al-Naisรขbศ—riy, Shahรฎh Muslim Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts, Kitรขb al-Ilm No. 1017. Abdullรขh Mahfศ—z al-Haddรขd, al-Sunnat wa al-Bidah Damaskus Dรขr al-Qalam, 1992 M/1413 H, 28. Ibnu Fรขris, Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah, jilid I 209. Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, No. 18996. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 Dari Rifรขah bin Rรขfiโ€™ al-Zuraqiy Ra berkata โ€œSuatu hari kami shalat di belakang Nabi Saw. Ketika Nabi bangkit dari rukuโ€™ beliau mengucapkan ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„‰๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„…๎‡บ lalu seorang laki-laki di belakangnya mengucapkan ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎††๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„†๎†ฆ๎„๎ˆˆ๎†Š๎‡—๎€ƒ๎†ก๎„†๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎‚๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„‹๎†ฅ๎„ƒ๎‡ . Setelah selesai shalat Nabi bertanya โ€œSiapa yang membaca kalimat tadi?โ€ Laki-laki tadi menjawab saya wahai Rasulullรขh. Nabi bersabda โ€œSungguh saya telah melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut untuk mencatat kalimat tersebut.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas seorang sahabat perihal zikir ketika shalat. Dalam hal ini, Nabi tidak menyalahkannya. Sebaliknya beliau justru menyampaikan kabar gembira kepada sahabat tersebut, karena hal baru yang dilakukannya itu tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. 2. Persetujuan Nabi terhadap pengkhususan satu surah yang selalu dibaca oleh sahabat ketika shalat ๎€ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„Š๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎††๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎€ƒ๎„ƒ๎†ถ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎ƒ‡๎‚ ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„Œ๎‡ท๎„„๎†š๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†Š๎‡ก๎„„๎‡‚๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„‡๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎†’๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎†ถ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎†ง๎†Š๎ˆ๎„‹๎‡๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎„„๎‡ž๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†—๎€ƒ๎††๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎†ข๎€ƒ๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Œ๎†Ÿ๎†Ž๎‡„๎„…๎†ด๎„„๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎„‰๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„Œ๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„„๎†ถ๎„‰๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„„๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„‹๎‡ท๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Œ๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ท๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†˜๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ„๎€ƒ๎†ข๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎‡€๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„‹๎‡ท๎„„๎†™๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎†ฌ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„‰๎‡ฏ๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎†ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†˜๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎†ซ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„ƒ๎‡Ÿ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎‡น๎„…๎ˆ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„„๎‡ป๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎†ฌ๎„…๎‡ฟ๎†Ž๎‡‚๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎„„๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„‹๎‡ท๎„„๎†š๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎†Ž๎‡‚๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎‡ด๎„ƒ๎‡”๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎†Š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎†ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎„„๎‡ฟ๎†ข๎พ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎‚๎†Œ๎‡น๎†Š๎ˆ๎†Œ๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„Š๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ฏ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„‰๎†ง๎„ƒ๎‡๎ˆ‚๎„Œ๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎ˆ๎„„๎‡„๎†Œ๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Œ๎‡ด๎„‰๎‡ธ๎„…๎†ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ญ๎„„๎‡‚๎„„๎‡ท๎†’๎†˜๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„Œ๎†ฆ๎„‰๎†ท๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎พ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„‹๎‡ผ๎†Š๎…ช๎†ก๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ป๎„…๎†ฝ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ฟ๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„Œ๎†ฆ๎„„๎†ท๎ฎ๎€ƒDari Anas bin Mรขlik ra โ€œAda seorang laki-laki dari kalangan Anshรขr yang selalu menjadi imam di Mesjid Qubรข. Setiap kali menjadi imam dia selalu membaca surah al-ikhlรขs sebelum membaca surah yang lain. Para jamaโ€™ah pun menegurnya Baca surah itu saja atau baca surah yang lain. Ia pun menjawab Saya tidak akan meninggalkan surah tersebut. Jika kalian suka saya akan terus menjadi imam dengan cara tersebut, jika kalian tidak suka saya berhenti jadi imam. Namun mereka tidak mau yang lain menggantikannya karena menurut mereka dia yang paling utama di antara mereka. Ketika Nabi datang bertemu mereka, hal ini disampaikan kepada beliau. Nabi pun bertanya kepada imam tadi โ€œWahai Fulan, alasan apa yang membuat engkau terus membaca surah itu dan tidak menerima permintaan sahabat-sahabatmu?โ€ Dia menjawab Saya suka cinta kepada surah tersebut. Nabi bersabda โ€œCintamu kepada surah tersebut dapat membawamu masuk ke surga.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas sahabat terkait bacaan surah ketika shalat. Dalam hal ini Nabi tidak melarangnya. Pernyataan Nabi โ€œkecintaanmu kepada surah yang selalu dibaca itu bisa membawamu ke surgaโ€ menunjukkan persetujuan Nabi terhadap kreatifitasnya itu. Meski begitu, cara yang selalu dipraktekkan Nabi sunnah tsรขbitah terkait bacaan surah itulah yang lebih utama untuk diikuti dalam Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Adzรขn Bab Mengumpulkan Dua Surah Dalam Satu Rakaโ€™at, No. 774. Ibnu Hajar al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy Beirut Dรขr al-Marifah, 1379 H, jld 2258. Al-Haddรขd, al-Sunnat wa al-Bidah, 35. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah 3. Persetujuan Nabi terhadap kreatifitas para sahabat dalam membuat majlis zikir ๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†Œ๎†จ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎ˆ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎„ƒ๎†ฑ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎„๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„„๎†ผ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„Š๎†พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ ๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡‚๎†Œ๎‡ฏ๎†’๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฐ๎†’๎‡จ๎„‰๎‡ด๎„…๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†•๎€ƒ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡ธ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„‡๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎ˆ€๎„„๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎‡„๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎„๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎††๎†ฐ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎†Š๎‡ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎„Š๎†จ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฑ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ธ๎„…๎‡๎†Š๎†—๎พ๎‚Ÿ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ธ๎„ƒ๎‡ป๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡‚๎†Œ๎‡ฏ๎†’๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡ต๎†ข๎†Š๎‡ด๎„…๎‡‡๎†Ž๎†œ๎†’๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†ก๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„„๎†พ๎พ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†•๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ญ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ƒŠ๎†…๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„…๎†ฆ๎†Ž๎†ณ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎†ข๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ผ๎„‰๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎††๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎ˆ€๎„„๎†ซ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†’๎‡จ๎„‰๎‡ด๎„…๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎„…๎†ป๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†Š๎†จ๎†Š๎‡ฐ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡ถ๎†Œ๎‡ฐ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ฟ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„ƒ๎†ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‹๎‡„๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎ƒˆ๎†…๎†ก๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎ฎ๎€ƒDari Abศ— Saโ€™รฎd al-Khudriyy berkata โ€œMuโ€™awiyah ra melihat satu halaqah di Mesjid, lalu ia bertanya Apa yang mendorong kalian untuk berkumpul? Orang-orang yang ada di halaqah itu menjawab Kami berkumpul di sini untuk berzikir kepada Allah. Muโ€™awiyah mempertegas Sumpah tidak ada niat lain? Demi Allah tidak ada niat yang lain jawab mereka. Kata Muโ€™awiyah Aku meminta kalian bersumpah bukan karena menuduh kalian. Tidak ada yang lebih sedikit punya hadis dibandingkan aku. Sesungguhnya Rasulullรขh Saw pernah melihat satu halaqah di Mesjid, lalu ia bertanya โ€œApa yang mendorong kalian untuk berkumpul?โ€ Orang-orang yang ada di halaqah itu menjawab Kami berkumpul di sini untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah dan niโ€™mat yang telah diberikan-Nya kepada kami. โ€œSumpah tidak ada niat lain?โ€ Demi Allah tidak ada niat yang lain jawab mereka. Nabi bersabda โ€œSungguh Aku meminta kalian bersumpah bukan karena menuduh kalian, tetapi Jibrรฎl as tadi datang dan memberi kabar kepada saya bahwa Allah Swt membanggakan kalian di hadapan para Malaikat-Nya.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya ijtihad para sahabat dalam membuat perkumpulan untuk berzikir kepada Allah. Perbuatan mereka pun disetujui oleh Nabi bahkan mereka mendapatkan kabar gembira dari Malaikat Jibril bahwa Allah Swt membanggakan mereka di kalangan Malaikat-Nya. Itulah cara sunnah Nabi dalam menanggapi segala perkara baru. Selama itu semua tidak bertentangan dengan dengan nash-nash agama dan tidak menyebabkan mudarat, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah yang sesat, apalagi jika itu bersumber dari tuntunan agama meskipun secara umum, misalnya firman Allah ๎€ƒ๎€๎†ฒ๎…ซ๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎‡น๎ˆ‚๎†ธ๎‡ด๎‡จ๎†ซ๎€ƒ๎‡ถ๎‡ฐ๎‡ด๎‡ ๎‡ณ๎€ƒ๎…š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ด๎‡ ๎‡ง๎†ก๎ˆ๎€š๎€š๎€‹๎€ƒโ€œKerjakanlah kebaikan agar kamu beruntung.โ€ QS. Al-Hajj 77. ๎€ƒ๎€๎†ง๎‡‚๎‡ฌ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎†ฉ๎†ก๎…š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ฌ๎†ฆ๎†ฌ๎‡‡๎†ข๎‡ง๎€”๎€—๎€›๎€‹๎€ƒโ€œBerlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.โ€ QS. Al-Baqarah 148. ๎†—๎€ƒ๎†ข๎ˆ‡๎€ƒ๎€๎†ฃ๎†ก๎‡„๎†ท๎ˆ‹๎†ก๎€Œ๎€ƒ๎†ก๎…š๎†ฐ๎‡ฏ๎€ƒ๎†ก๎‡‚๎‡ฏ๎†ฟ๎€ƒ๎†…๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ๎‡‚๎‡ฏ๎†ฟ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎‡ผ๎‡ท๎†•๎€ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎‡€๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎ˆ€๎ˆ‡๎€—๎€”๎€‹ โ€œHai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.โ€ QS. Al-Ahzab 41. Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Dzikr, Bab Keutamaan Berkumpul Untuk Membaca al-Qurโ€™an dan Dzikir No. 2701. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 4. Penolakan Nabi terhadap kreatifitas Abศ— Isrรขรฎl ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡…๎†ข๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ค๎†Œ๎‡˜๎„…๎†ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡ถ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†Š๎†˜๎„ƒ๎‡ˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†Š๎‡ฒ๎ˆˆ๎„‰๎†Ÿ๎†ก๎„ƒ๎‡‚๎„…๎‡‡๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎…๎‡ฒ๎„‰๎‡œ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€‘๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„…๎‡‚๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„‰๎‡œ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„…๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎„‰๎†ฌ๎„„๎ˆˆ๎†’๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎‡๎ฎDari Ibnu Abbรขs ra bercerita โ€œKetika Nabi Saw sedang menyampaikan khutbah, ada seorang laik-laki yang sedang berdiri. Lalu Nabi bertanya tentang laki-laki tersebut. Para sahabat menjawab Dia adalah Abศ— Isrรขรฎl. Dia bernadzar puasa sambil berdiri dan tidak duduk, tidak bernaung, dan tidak berbicara. Nabi bersabda โ€œPerintahkan kepadanya untuk berbicara, bernaung, dan duduk, serta selesaikan puasanya.โ€ Di dalam hadis ini, Nabi melarang perbuatan Abศ— Isrรขรฎl yang melakukan puasa namun tidak berbicara, tidak bernaung dari panas matahari, dan tidak duduk. Ijtihadnya ini dilarang oleh Nabi karena dapat menyebabkan kemudaratan. Ibnu Hajar berkomentar Segala sesuatu yang tidak ada petunjuknya dari al-Qurโ€™an atau sunnah jika mendatangkan kemudaratan bagi manusia meskipun tidak langsung seperti berjalan untuk ibadah tanpa alas kaki, atau duduk di bawah terik matahari maka itu tidak termasuk ketaatan kepada Allah, dan nadzar dengan hal itu dianggap tidak Penolakan Nabi terhadap ijtihad Muรขdz bin Jabal ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎„๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ด๎„ƒ๎‡‡๎€ƒ๎†Ž๎‡ต๎†ข๎„‹๎‡Œ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎†ˆ๎†ฟ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„‰๎†พ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎ˆ„๎†Š๎‡ง๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„‰๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎พ๎‚Ÿ๎†Œ๎†ฟ๎†ข๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฅ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡จ๎„‰๎‡ซ๎†ข๎„ƒ๎‡‡๎†Š๎†˜๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ๎„„๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎†ข๎„‹๎‡Œ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎†ฟ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎ƒŠ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎„„๎†ฉ๎„…๎†ฝ๎„‰๎†ฝ๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†ฌ๎†Š๎‡ซ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡˜๎€ƒ๎€๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎พ๎€ƒ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†Š๎†ง๎†Š๎†—๎„…๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎„„๎†ฉ๎„…๎‡‚๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡ค๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎„„๎†ด๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎„†๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎„†๎‡‚๎„‰๎‡ท๎†•๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†Ž๎†ณ๎„…๎ˆ๎„ƒ๎‡„๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€โ€ฆ๎ฎ ๎€๎‡ช๎‡ฌ๎†„๎†ก๎€ƒ๎‡ฑ๎†ข๎‡ซ ๎‡ฝ๎…š๎‡ค๎‡ณ๎€ƒ๎†ถ๎ˆˆ๎†ธ๎‡๎€ƒDari Abdullรขh bin Abรฎ Aufรข ra berkata โ€œKetika Muโ€™รขdz ra datang dari Syรขm dia sujud kepada Nabi Saw. Nabi bertanya Ada apa ini wahai Muโ€™รขdz? Muโ€™รขdz menjawab Tatkala saya datang ke negeri Syรขm kebetulan para penduduknya sedang sujud kepada para pendeta dan penguasa, maka aku ingin melakukan yang demikian itu kepadamu wahai Rasศ—lullรขh. Nabi bersabda โ€œJangan lakukan. Kalau aku menyuruh seseorang untuk sujud kepada selain Allรขh maka akan kuperintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya....โ€ Hadis ini menceritakan adanya keinginan sahabat Nabi Muรขdz bin Jabal untuk sujud kepada Nabi. Keinginannya itu ditolak oleh Nabi karena hal itu bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa sujud hanya dibolehkan kepada Allah Swt. 6. Penolakan Nabi terhadap ijtihad Juairiyah bint al-Hรขrits ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ญ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎…ซ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎†จ๎„ƒ๎‡ธ๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎„‰๎†ช๎„…๎‡ธ๎„„๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚Ÿ๎†Ž๎‡†๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎ฎ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ช๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎‚๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„„๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎†’๎‡น๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎‚Ÿ๎†ก๎„†๎†พ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„…๎†ช๎†Š๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎‚๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎ˆ…๎†Ž๎‡‚๎„‰๎‡˜๎†’๎‡ง๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ง๎ฎDari Juairiyah bint al-Hรขrits ra, โ€œbahwasanya Nabi Saw pernah menemuinya pada hari Jumโ€™at, sedangkan dia Juairiyah sedang berpuasa. Nabi bertanya โ€œApakah kamu berpuasa kemarin? Dia menjawab tidak. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Aymรขn wa al-Nudzศ—r Bab Nadzar Terhadap Sesuatu Yang Tidak Dimiliki dan Dalam Kemaksiatan No. 6704. Al-Asqalรขniy, Fath al-Bรขriy, jld 11 h. 590. Ibnu Mรขjah Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Yazรฎd al-Qazwainiy, Sunan Ibni Mรขjah, tahqรฎq Syuโ€™aib al-Arnรขuth Damaskus Dรขr al-Risรขlah, 2009 M/1430 H, Bab Hak Suami Dari Istri No. 1853. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shaum Bab Puasa pada Hari Jumโ€™at, No. 1986. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah Nabi bertanya lagi โ€œApakah kamu ingin berpuasa besok? Dia menjawab tidak. Sabda Nabi โ€œKalau begitu berbukalah.โ€ Hadis ini menunjukkan adanya kreatifitas umm al-Muโ€™minรฎn Juairiyah bint al-Hรขrits dengan berpuasa pada hari Jumโ€™at tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya. Perbuatannya ini dilarang oleh Nabi Saw karena bertentangan dengan hadis sahih yang disepakati oleh Imam al-Bukhรขriy dan Imam Muslim dari Abศ— Hurairah ra. Nabi Saw bersabda ๎พ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎‚๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎†ข๎„†๎‡ท๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ด๎„…๎†ฆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎†ฅ๎ฎโ€œJanganlah seseorang diantara kalian berpuasa pada hari Jumโ€™at kecuali desertai dengan puasa sebelumnya Kamis atau sesudahnya Sabtu.โ€ ๎พ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎†ผ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎„„๎†ด๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎„‰๎‡ฌ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†ก๎ˆ‚๎„Œ๎‡๎„„๎†ผ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎„„๎†ด๎†’๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎ˆˆ๎„‰๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†˜๎†’๎‡ณ๎†ก๎‚๎†Ž๎‡ต๎†ข๎„‹๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎ฎโ€œJanganlah kamu khususkan malam Jumโ€™at dengan shalat sunat dan jangan pula kamu khususkan hari Jumโ€™at dengan berpuasa kecuali berbetulan dengan puasa wajib atau sunat yang dikerjakan pada hari itu.โ€ 7. Penolakan Nabi terhadap perbuatan Zainab binti Jahsy ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„ƒ๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎†ฝ๎ˆ๎„„๎†พ๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡บ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎†Ž๎‡๎†ข๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎พ๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎‚Ÿ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎†Š๎…ซ๎†ก๎€ƒ๎ฎ๎†ก๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡„๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ฉ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎‚๎„…๎†ช๎†Š๎‡ฌ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎…Ž๎‡ด๎„„๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡ฒ๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆˆ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎†Š๎‡—๎†ข๎„ƒ๎‡Œ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†พ๎„„๎‡ ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ด๎†Š๎‡ง๎ฎ๎€ƒDari Anas bin Mรขlik ra berkata โ€œKetika Nabi Saw masuk mesjid tiba-tiba ada tali yang terikat di antara dua tiang. Nabi bertanya apa ini? Para sahabat menjawab itu milik Zainab ra yang digunakannya untuk berpegang apabila ia lelah shalat. Nabi bersabda โ€œJangan seperti itu, lepaskan tali itu. Lakukanlah shalat semampu kalian ketika kuat, jika lelah duduklah istirahat.โ€ Dalam hadis ini Nabi melarang ijtihad atau kesungguhan yang berlebihan dalam beribadah, karena itu bisa menimbulkan masyaqqah atau mudarat, di samping juga bertentangan dengan hadis Nabi ๎พ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„„๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Œ๎‡ซ๎„…๎‡‚๎„ƒ๎ˆˆ๎†’๎‡ด๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ฟ๎†’๎‡€๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Œ๎‡ฏ๎„ƒ๎†พ๎„ƒ๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡†๎„‰๎‡Ÿ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„‰๎‡จ๎„…๎‡ค๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎†ค๎„„๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ป๎ฎโ€œJika salah seorang di antara kamu ngantuk ketika shalat maka tidurlah sampai hilang rasa ngantuknya, sebab jika kamu shalat dalam keadaan ngantuk barangkali bisa mencela diri sendiri mendoโ€™akan tidak baik padahal ingin minta ampun.โ€ Selain hadis-hadis di atas masih banyak lagi hadis-hadis yang menunjukkan bagaimana sikap Nabi dalam menanggapi setiap perkara baru yang dilakukan oleh para sahabat. Jika perkara baru itu sesuai dengan ajaran Islam maka disetujui dan diterima oleh Nabi, bahkan dalam beberapa kasus mendapatkan apresiasi dari para Malaikat atau kabar gembira berupa surga atau keridaan Allah Swt terhadap amal tersebut, meskipun Nabi sendiri belum pernah melakukannya Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shaum Bab Puasa pada Hari Jumโ€™at, No. 1985. Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Shaum Bab Makruh Berpuasa Hanya Pada Hari Jumโ€™at, No. 1148. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Tahajjud No. 1150. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Wudhศ— No. 212. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 atau memerintahkannya secara khusus, namun amal tersebut masuk dalam dalil umum dari al-Qurโ€™an atau hadis yang memerintahkan untuk memperbanyak melakukan kebaikan. Sebaliknya, jika hal baru itu bertentangan dengan ajaran Islam misalnya bertentangan dengan akidah Islam seperti kasus Muรขdz ra, atau menyebabkan kemudaratan dengan menyiksa diri seperti kasus Abศ— Isrรขรฎl, atau berlebihan sehingga menimbulkan masyaqqah seperti kasus umm al-muโ€™minรฎn Zainab ra maka itu ditolak oleh Nabi, dan itulah yang termasuk bidโ€™ah yang sesat. Pandangan Khulafรข Al-Rรขsyidรฎn terhadap Perkara-Perkara Baru Di dalam hadis Irbรขdh bin Sรขriyah di atas Nabi juga berpesan agar umat Islam berpegang kepada sunnah khulafรข al-rรขsyidรฎn. Sikap khulafรข al-rรขsyidรฎn dan para sahabat lainnya juga sama seperti sikap Nabi. Hal itu disebabkan karena mereka sangat mengikuti sunnah cara Nabi dalam setiap perbuatan, termasuk dalam hal menanggapi segala perkara baru yang terjadi di masa mereka. Berikut ini beberapa contoh tersebut 1. Ijtihad Umar ra dan persetujuan Abศ— Bakar terhadap pembukuan al-Qurโ€™an ๎‡บ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†พ๎„…๎ˆ‡๎‡ƒ๎€ƒ๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ช๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„ˆ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎†ข๎„ƒ๎‡๎„…๎‡ป๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎†ก๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ค๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„…๎†ท๎„ƒ๎ˆ‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎‡‡๎„…๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„…๎‡ฟ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎†ข๎„ƒ๎†ซ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„…๎†ฌ๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†พ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡‚๎„ƒ๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡‡๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎ˆˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎ˆ†๎„๎‡ป๎€ƒ๎ˆ„๎„ƒ๎‡Œ๎„…๎†ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡‚๎„‰๎†ธ๎„ƒ๎†ฌ๎„…๎‡ˆ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎†ฌ๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†ก๎„‹๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ข๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎‚๎†Ž๎‡บ๎„‰๎‡—๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ค๎„ƒ๎‡ฟ๎†’๎‡€๎„ƒ๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎…š๎„‰๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ข๎…๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ฝ๎ˆ‚๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ด๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎†˜๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ด๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€…๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡ ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€๎พ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฆ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ข๎††๎† ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„‡๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ฑ๎„ƒ๎‡„๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎‡‚๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎ˆˆ๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‰๎‡ณ๎†Š๎‡€๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎ˆ‡๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆƒ๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎‚๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†พ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ช๎†Ž๎†ฅ๎†ข๎†Š๎†ฏ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ฝ๎„ƒ๎†พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡†๎„‰๎‡ณ๎†ข๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎‚๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฎ๎„‹๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Ž๎†ฃ๎†ข๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎‚๎†ˆ๎‡ฒ๎„‰๎‡ซ๎†ข๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ฎ๎„„๎‡ธ๎†Ž๎ˆ€๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎พ๎€ƒ๎„ƒ๎†ช๎„…๎‡ผ๎†Œ๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ค๎„„๎†ฌ๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„…๎†ท๎„ƒ๎ˆ‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎ˆ‚๎„„๎‡‡๎„ƒ๎‡‚๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎ฎ๎‚๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ณ๎†ข๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎†Š๎‡จ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†’๎‡ฌ๎„ƒ๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡ฒ๎„ƒ๎†ฆ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎†ข๎„ƒ๎†ฆ๎„‰๎…ช๎†ก๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†Š๎‡ฌ๎†’๎†ฏ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎ˆ†๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎†ข๎„‹๎‡ธ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎‡ป๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ž๎„…๎‡ธ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎†’๎‡ด๎†Œ๎‡ซ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ฆ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡น๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎†ข๎††๎† ๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†’๎‡ด๎„ƒ๎‡ ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„Œ๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„‡๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†’๎‡ฑ๎„ƒ๎‡ƒ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ ๎†Ž๎†ณ๎†ก๎„ƒ๎‡๎†Œ๎†—๎€ƒ๎ˆ„๎„‹๎†ฌ๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ…๎†Ž๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ต๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡‹๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡๎„…๎†พ๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ธ๎†Œ๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ ๎„‹๎†ฆ๎„ƒ๎†ฌ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†•๎„…๎‡‚๎†Œ๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„„๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ณ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎„๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡ฅ๎†ข๎„ƒ๎†ฌ๎†’๎‡ฏ๎ƒˆ๎ˆ‹๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ค๎„„๎‡ˆ๎„„๎‡ ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡๎ˆ๎„„๎†พ๎„„๎‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฑ๎†ข๎„ƒ๎†ณ๎„๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€‘Hadis ini menceritakan adanya sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan oleh Nabi, yaitu pembukuan al-Qurโ€™an dalam satu mushaf. Ide ini pada awalnya muncul dari Umar ra dan pada akhirnya disetujui oleh Khalรฎfah Rasศ—lillรขh Abศ— Bakar ra dan Kรขtib al-Wahyi Zaid bin Tsรขbit dan sahabat-sahabat lainnya. Ini menunjukkan bahwa perkara baru, jika merupakan kebaikan sebagaimana yang dikatakan Umar ra โ€œ ๎ฎ๎ซ๎€ƒ๎ฏŒ๎ญ๎€ƒ๎Žฎ๎ด๎Žง โ€ maka itu tidak sesat. Sebaliknya, itu merupakan sunnah mustanbathah dari cara sunnah Nabi Saw. 2. Ijtihad Umar ra dan ijmรข sahabat terhadap shalat tarawih berjamaโ€™ah ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ท๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†พ๎„…๎†ฆ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„๎ˆ…๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„‹๎‡ป๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ž๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ฃ๎†ข๎…๎‡˜๎†Š๎…ฌ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎„ƒ๎‡”๎„ƒ๎‡ท๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ณ๎†Ž๎†›๎€ƒ๎‚๎„‰๎†พ๎†Ž๎†ด๎„…๎‡ˆ๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ฟ๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‡๎‡๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎„…๎ˆ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎†Œ๎‡ซ๎„๎‡‚๎†Š๎‡จ๎„ƒ๎†ฌ๎„„๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡พ๎ƒŠ๎‡ˆ๎†’๎‡จ๎„ƒ๎‡ผ๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„„๎†ณ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎ˆ†๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆˆ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„‰๎†ซ๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†Œ๎‡–๎„…๎‡ฟ๎„‹๎‡‚๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎พ๎€ƒ๎€๎ˆ†๎„๎‡ป๎†Ž๎†›๎€ƒ๎ˆƒ๎„ƒ๎‡๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎ˆ‚๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎†ณ๎€ƒ๎€ƒ๎ƒŠ๎‚ ๎†Š๎ˆ๎„„๎†š๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎†๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎‚๎„Š๎†พ๎„‰๎†ท๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฐ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎†Š๎†ฐ๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎‡ต๎„ƒ๎‡„๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎„„๎ˆ€๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎†ด๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎„ƒ๎†ฅ๎†Œ๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎†‰๎†ค๎„…๎‡ ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„‹๎‡ถ๎†Œ๎†ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎†ช๎„…๎†ณ๎„ƒ๎‡‚๎„ƒ๎†ป๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„ƒ๎‡ ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎††๎†จ๎†Š๎‡ด๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎ˆƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎†ป๎†Œ๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎…Ž๎‡ด๎„ƒ๎‡๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†ง๎†Š๎ˆ๎„ƒ๎‡๎†Ž๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„…๎‡ถ๎†Ž๎ˆ€๎„‰๎†Ÿ๎†Ž๎‡๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡‚๎„ƒ๎‡ธ๎„„๎‡Ÿ๎พ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎„…๎‡ ๎†Ž๎‡ป๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎†จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎„…๎†พ๎†Ž๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„‰๎‡ฝ๎„‰๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎…๎‡ณ๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎†ข๎„ƒ๎‡ผ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„ƒ๎‡”๎†’๎‡ง๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎†ฌ๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ฎ๎€ƒ๎„„๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡‚๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„‰๎†ป๎†•๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„…๎ˆˆ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡…๎†ข๎„‹๎‡ผ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎ˆ‚๎„„๎‡ท๎ˆ‚๎†Œ๎‡ฌ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎†Š๎‡ณ๎„‹๎ˆ๎†Š๎†—๎€‘Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Tafsรฎr al-Qurโ€™รขn No. 4679. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Bab Keutamaan Orang Yang Shalat Di Bulan Ramadhan No. 2010. MUHAMMAD ARABY Menelisik Konsep Bidโ€™ah Hadis ini menceritakan adanya kreatifitas dalam shalat tarawih yang disampaikan oleh Umar bin al-Khaththรขb ra, yaitu shalat tarawih secara berjamaโ€™ah. Padahal pada masa Nabi hal itu tidak pernah dipraktekkan. Pendapat Umar ini pun disetujui oleh para sahabat sehingga mereka shalat tarawih dengan berjamaโ€™ah yang diimami oleh Ubay bin Kaab ra. 3. Ijtihad Utsmรขn ra perihal penambahan adzan Jumโ€™at ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎†ค๎„‰๎†Ÿ๎†ข๎„‹๎‡ˆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎‚๎„ƒ๎†พ๎ˆ‡๎†Ž๎‡„๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ…๎„‰๎‡€๎…๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎†ฝ๎†ก๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†ฟ๎†’๎†˜๎„‹๎†ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ฎ๎„‰๎‡ณ๎†ข๎…๎†ฐ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡น๎†ข๎„ƒ๎‡ธ๎†’๎†ฐ๎„„๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎…๎‡จ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡“๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎…๎‡ด๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎‚๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎†Œ๎†ฐ๎†Š๎‡ฏ๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฒ๎„…๎‡ฟ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ผ๎ˆ‡๎„‰๎†พ๎†Š๎…ญ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡ถ๎†Š๎‡ณ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎†Œ๎‡ฐ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„๎ˆ†๎†Ž๎†ฆ๎„‹๎‡ผ๎‡ด๎„‰๎‡ณ๎€ƒ๎ˆ„๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡๎€ƒ๎€ƒ๎ƒ‰๎†…๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎‡พ๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ถ๎…๎‡ด๎„ƒ๎‡‡๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†ˆ๎‡น๎…๎†ฟ๎„ƒ๎†š๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡‚๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ฃ๎€ƒ๎‚๎„Š๎†พ๎„‰๎†ท๎†ก๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฏ๎„ƒ๎ˆ๎€ƒ๎†Š๎‡น๎†ข๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡บ๎ˆ‡๎„‰๎†ฟ๎†’๎†˜๎„‹๎†ฌ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡ต๎„…๎ˆ‚๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„‰๎†จ๎„ƒ๎‡ ๎„„๎‡ธ๎†Œ๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎…›๎„‰๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡†๎„‰๎‡ด๎„…๎†ด๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡ต๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎ƒŠ๎ˆ๎†ก๎€ƒ๎€‘๎ˆ†๎†Ž๎‡ผ๎„…๎‡ ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡‚๎„ƒ๎†ฆ๎„…๎‡ผ๎„‰๎…ญ๎†ก๎€‘Dari hadis ini diketahui bahwa Utsmรขn bin Affรขn ra telah menambahkan adzan pada hari Jumโ€™at, yaitu adzan yang pertama. Padahal, sebelumnya adzan hanya dua kali yaitu adzan dan Iqamah. Ijtihad ini dilakukannya karena banyaknya umat Islam di Madinah waktu itu, sehingga perlu untuk dipanggil ke Mesjid melalui adzan Penolakan Abศ— Bakar terhadap wanita muslimah yang melaksanakan haji dengan tidak berbicara ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡บ๎„…๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ†๎†Ž๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎‚๎†‰๎‡ต๎†Ž๎‡ƒ๎†ข๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎€๎€ƒ๎†Š๎‡ฒ๎„ƒ๎†ป๎„ƒ๎†ฝ๎€ƒ๎ˆ‚๎„„๎†ฅ๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†‰๎‡‚๎†’๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฅ๎€ƒ๎ˆ„๎†Š๎‡ด๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎€ƒ๎„Š๎†ง๎†Š๎†—๎„ƒ๎‡‚๎„…๎‡ท๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„ƒ๎‡ธ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎€ƒ๎†Œ๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎„„๎ˆ‡๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎‚๎„„๎†ค๎„ƒ๎‡ผ๎„…๎ˆ‡๎„ƒ๎‡ƒ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ฟ๎†•๎„ƒ๎‡‚๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ฌ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚Ÿ๎„„๎‡ถ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎ˆ‚๎†Œ๎‡ณ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎†ก๎€ƒ๎€๎€ƒ๎„…๎†ช๎„‹๎†ด๎„ƒ๎†ท๎€ƒ๎‚๎††๎†จ๎„ƒ๎†ฌ๎„‰๎‡ธ๎„…๎‡๎„„๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎‡ฑ๎†ข๎†Š๎‡ซ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎ˆ€๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€๎‚๎ˆ†๎„‰๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ซ๎€ƒ๎€ƒ๎…๎‡น๎†Ž๎†œ๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎ˆ๎€ƒ๎‚๎…Ž๎‡ฒ๎„‰๎†ธ๎„ƒ๎ˆ‡๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Ž๎‡ฒ๎„ƒ๎‡ธ๎„ƒ๎‡Ÿ๎€ƒ๎‚๎„‰๎†จ๎„‹๎ˆˆ๎„‰๎‡ด๎„‰๎‡ฟ๎†ข๎†Š๎…ช๎†ก๎€ƒ๎€ƒ๎„…๎†ช๎„ƒ๎‡ธ๎…๎‡ด๎†Š๎‡ฐ๎„ƒ๎†ฌ๎†Š๎‡ง ๎€‘๎€‘๎€‘๎€ƒDalam hadis ini disebutkan bahwa ada seorang perempuan yang tidak mau berbicara ketika melaksanakan ibadah haji. Abศ— Bakar kemudian menegurnya dan menyuruhnya agar berbicara, karena perbuatannya tadi merupakan kebiasaan orang-orang jahiliyah, sehingga ia pun berbicara. Penutup Term bidโ€™ah secara bahasa berarti sesuatu yang baru. Makna secara bahasa inilah yang dimaksud oleh Amรฎr al-Muโ€™minรฎn Umar bin al-Khaththรขb ra dalam perkataannya๎€ƒ โ€œ๎‡ฝ๎‡€๎‡ฟ๎€ƒ๎†จ๎‡Ÿ๎†พ๎†ฆ๎‡ณ๎†ก๎€ƒ๎†ช๎‡ธ๎‡ ๎‡ปโ€ ketika menyaksikan jamaโ€™ah shalat tarawih di Madinah. Dengan makna bahasa ini juga para ulama membagi bidโ€™ah kepada bidโ€™ah hasanah dan bidโ€™ah qabรฎhah seperti klasifikasi imam al-Syรขfiโ€™i, atau klasifikasi Izz al-Dรฎn Ibn Abd al-Salรขm yang membagi bidโ€™ah kepada bidโ€™ah wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Adapun bidโ€™ah yang dimaksud Nabi sesat di dalam hadisnya ialah bidโ€™ah dalam pengertian syaraโ€™. Bidah syariyyah ialah suatu perkara dalam masalah agama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Makna ini dengan jelas dapat dipahami dari hadis Nabi yang diriwayatkan oleh umm al-muโ€™minรฎn Aisyah ra ๎พ๎€ƒ๎„…๎‡บ๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎†Š๎†ญ๎„ƒ๎†พ๎„…๎†ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎ˆ†๎„‰๎‡ง๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ป๎†Ž๎‡‚๎„…๎‡ท๎†Š๎†—๎€ƒ๎†ก๎†Š๎‡€๎„ƒ๎‡ฟ๎€ƒ๎†ข๎„ƒ๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎‡†๎„…๎ˆˆ๎†Š๎‡ณ๎€ƒ๎€ƒ๎„„๎‡พ๎„…๎‡ผ๎„‰๎‡ท๎€ƒ๎€ƒ๎„ƒ๎ˆ‚๎„„๎ˆ€๎†Š๎‡ง๎€ƒ๎€ƒ๎„Ž๎†ฝ๎„ƒ๎‡๎ฎDalam hadis ini disebutkan bahwa perkara baru dalam masalah agama yang tidak ada asal atau sumbernya dari agama itu tertolak. Dengan demikian, jika hal baru itu bukan masalah agama, misalnya masalah dunia maka itu tidak tertolak. Begitu juga jika hal baru dalam masalah agama namun berasal dari petunjuk atau dalil agama baik al-Qurโ€™an atau hadis maka itu juga tidak tertolak. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Jumuah Bab Muadzdzin Pada Hari Jumโ€™at No. 913. Lihat Abศ— al-Abbรขs Ahmad bin Muhammad bin Abรฎ Bakar al-Qustullรขniy, Irsyรขd al-Sรขriy Mesir Maktabat al-Amรฎriyyah, 1323 H, jld II 178. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb Manรขqib al-Anshรขr Bab Kejadian-Kejadian Masa Jahiliyah No. 3834. Al-Bukhรขriy, Shahรฎh al-Bukhรขriy, Kitรขb al-Shulh No. 2697 dan Muslim bin al-Hajjรขj, Shahรฎh Muslim, Kitรขb al-Aqdiyyah No. 1718. Ilmu Ushuluddin Vol. 15, No. 1 Makna di atas menjadi lebih jelas dengan sikap Nabi dan para sahabat sesudahnya dalam menghadapi setiap hal baru. Ternyata tidak semuanya ditolak atau dianggap sesat. Jika hal baru itu sesuai dengan ajaran Islam, meskipun sumbernya dari dalil atau petunjuk yang umum dan Nabi tidak pernah mengerjakannya dan juga tidak pernah memerintahkan secara khusus, maka itu tidak termasuk bidโ€™ah. Apalagi jika hal baru itu merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan. Sebaliknya, jika hal baru itu bertentangan dengan ajaran Islam, seperti bertentangan dengan akidah Islam, atau bisa menyebabkan kemudaratan, atau berlebihan yang menyebabkan masyaqqah, maka itulah yang dinamakan bidโ€™ah, yang di dalam hadis Nabi disebut sesat. [ ] DAFTAR PUSTAKA Al-Asqalรขniy, Ahmad bin Aliy bin Hajar. Fath al-Bรขriy. Beirut Dรขr al-Marifah. 1379 H. Al-Bukhรขriy, Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Ismรขรฎl. Shahรฎh al-Bukhรขriy. Damaskus Dรขr Thauq al-Najรขh. 1422 H. Al-Haddรขd, Abdullรขh Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bidah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 H. Al-Naisรขbศ—riy, Abศ— al-Husayn Muslim bin al-Hajjรขj. Shahรฎh Muslim. Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts. Al-Nawรขwiy, Muhyi al-Dรฎn Yahyรข bin Syaraf. al-Minhรขj fรฎ Syarh Shahรฎh Muslim bin al-Hajjรขj. Beirut Dรขr Ihyรข al-Turรขts al-Arabiy. 1392 H. Al-Qaradhawiy, Yศ—suf. al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah Wahbah. 1991 M/1411 H. Al-Qazwainiy, Ibnu Mรขjah Abศ— Abdillรขh Muhammad bin Yazรฎd. Sunan Ibni Mรขjah, tahqรฎq Syuโ€™aib al-Arnรขuth. Damaskus Dรขr al-Risรขlah. 2009 M/1430 H. Al-Qustullรขniy, Abศ— al-Abbรขs Ahmad bin Muhammad bin Abรฎ Bakar. Irsyรขd al-Sรขriy. Mesir Maktabat al-Amรฎriyyah. 1323 H. Al-Rรขziy, Abศ— al-Husayn Ahmad bin Fรขris. Mujam Maqรขyรฎs al-Lughah. Beirut Dรขr al-Fikr. 1979 M/1399 H. Al-Syaibรขniy, Abศ— Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syuaib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah. 2001 M/1421 H. Al-Syaqรฎriy, Muhammad Abd al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtadaโ€™รขt al-Mutaโ€™alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press. 2005. ... Begitupun juga sebaliknya. Araby, 2016 Untuk menghindar dari bid"ah yang sesat bid"ah sayyiah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan di dalam mengkaji nash sehingga dipoeroleh makna yang benar dan maslahat. Hal-hal itu adalah sebagai berikut ...RuslanRasyidah ZainuddinKeragaman pemahamanan keagamaan merupakan bagian dari realitas sosial yang diakibatkan oleh perbedaan metode dalam menafsirkan teks-teks suci agama. Salah satu konsep dalam Islam yang selalu menuai kontroversi interpretasi adalah istilah Bidโ€™ahโ€ yang kemudian berujung pada lahirnya beragam perilaku beragama di kalangan umat muslim sendiri. Artikel ini mengkaji secara konsepsional mengkaji variasi interpretasi terhadap istilah Bidโ€™ahโ€™ sebagai awal mula munculnya variasi beragama di kalangan umat muslim khususnya di Indonesia. Artikel ini menggunakan kajian literatur teks keagamaan Islam yaitu A-Qurโ€™an dan Hadits terkait konsep Bidโ€™ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan paradigma berpikir dalam memahami dan menginterpretasi teks-teks suci agama berdampak terhadap perilaku beragama. Unsur-unsur perbedaan paradigma tersebut antara lain aspek historis ayat dan hadits, aspek sosial dan budaya lokalitas, aspek linguistikHayyan Ahmad Ulul AlbabMuhammad AsroriMohammad LuthfillahPemahaman bidโ€™ah menjadi sebuah perbedaan yang harus diluruskan. Perbedaan itu terkungkung pada kata-kata sesat dan tidak sejalan dengan Nabi SAW. Padahal pemahaman yang dangkal tersebut bisa diatasi dengan cara membaca secara mendalam konsep bidโ€™ah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman mahasiswa tentang bidโ€™ah dan mengeksplorasi makna bidโ€™ah yang sesuai dengan ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan datanya dengan Observasi, dan Wawancara. Analisis penelitiannya menggunakan lima-tahap siklus analisis data kualitatif yaitu 1 Compiling 2 Disassembling, 3 Reassembling and Arraying, 4 Interpreting and 5 Concluding. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Pemahaman konsep bidโ€™ah mahasiswa secara umum telah sampai pada istilah sesuatu yang baru yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Istilah tersebut tentunya ditambahkan dengan pemahaman lain tentang bidโ€™ah hasanah dan bidah dholalah. Kedua macam bidโ€™ah telah dipahami mahasiswa sebagai sesuatu yang baru dan tidak menyalahi syariat Islam masuk pada bidโ€™ah hasanah, sementara itu bidโ€™ah dholalah diartikan mereka sebagai sesuatu yang baru yang menyalahi atau bertentangan dengan syariat bin 'Aliy bin HajarAl-' AsqalรขniyAl-'Asqalรขniy, Ahmad bin 'Aliy bin Hajar. Fath al-Bรขriy. Beirut Dรขr al-Ma'rifah. 1379 li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah WahbahYศ—suf Al-QaradhawiyAl-Qaradhawiy, Yศ—suf. al-Madkhal li Dirรขsat al-Sunnat al-Nabawiyyah. Kairo Maktabah Wahbah. 1991 M/1411 Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syu'aib al-Arnรขuth etAl-SyaibรขniyBeirutAl-Syaibรขniy, Abศ— 'Abdillรขh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Musnad al-Imรขm Ahmad bin Hanbal, tahqรฎq Syu'aib al-Arnรขuth Beirut Muassat al-Risรขlah. 2001 M/1421 al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtada'รขt al-Muta'alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber etMuhammad ' Al-SyaqรฎriyAl-Syaqรฎriy, Muhammad 'Abd al-Salรขm Khadir. al-Sunan wa al-Mubtada'รขt al-Muta'alliqat bi al-Adzkรขr wa al-Shalawรขt, terj. Achmad Munir Awood Badjeber Jakarta Qisthi Press. Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bid'ah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 HAl-HaddรขdAl-Haddรขd, 'Abdullรขh Mahfศ—z. al-Sunnat wa al-Bid'ah. Damaskus Dรขr al-Qalam. 1992 M/1413 H. Perkataan yang sering dikemukakan oleh sebagian orang ketika membidโ€™ahkan suatu amalan, โ€œItu tidak pernah dilakukan oleh Nabi, dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Seandainya itu perkara baik, niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya.โ€ Tark Tak Selalu Bermakna Tahrim Ketika Nabi tidak melakukan suatu halโ€“dalam istilah ilmu Ushul Fiqh disebut โ€œat-tarkโ€โ€” mengandung beberapa kemungkinan selain tahrim pengharaman. Mungkin saja Nabi tidak melakukan suatu hal hanya karena tidak terbiasa, atau karena lupa atau karena memang tidak terpikirkan sama sekali oleh beliau sebab sebagai manusia, Nabi yang suci dari dosa [maโ€™shum] diliputi pula oleh keterbatasan fisik dan lingkungan kulturalโ€”red, atau karena takut hal tersebut difardlukan atas umatnya sehingga memberatkan atau karena hal tersebut sudah masuk dalam keumuman sebuah ayat atau hadits atau kemungkinan-kemungkinan yang lain. Jelas bahwa tidak mungkin Nabi bisa melakukan semua hal yang dianjurkan, karena begitu sibuknya beliau dengan tugas-tugas dakwah, kemasyarakatan atau kenegaraan. Jadi, hanya karena Nabi tidak melakukan sesuatu lalu sesuatu itu diharamkan, ini adalah istinbath yang keliru. Demikian juga ketika para ulama salaf tidak melakukan suatu hal itu mengandung beberapa kemungkinan. Mungkin saja mereka tidak melakukannya karena kebetulan saja, atau karena menganggapnya tidak boleh atau menganggapnya boleh tetapi ada yang lebih afdlal sehingga mereka melakukan yang lebih afdlal, dan beberapa kemungkinan lain. Jika demikian halnya at-tark tidak melakukan saja tidak bisa dijadikan dalil, karena kaidah mengatakan ู…ูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ุงุญู’ุชูู…ูŽุงู„ู ุณูŽู‚ูŽุทูŽ ุจูู‡ู ุงู„ุงุณู’ุชูุฏู’ู„ุงูŽู„ู "Dalil yang mengandung beberapa kemungkinan tidak bisa lagi dijadikan dalil untuk salah satu kemungkinan saja tanpa ada dalil lain". Oleh karena itu al Imam asy-Syafi'i mengatakan ูƒูู„ู‘ู ู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ู…ูุณู’ุชูŽู†ูŽุฏูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุจูุฏู’ุนูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ุจูู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽูู "Setiap perkara yang memiliki sandaran dari syara' bukanlah bid'ah meskipun tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf." Jadi, perlu diketahui bahwa ada sebuah kaidah ushul fiqh ุชูŽุฑู’ูƒู ุงู„ุดู‘ูŽู‰ู’ุกู ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ุนูู‡ู "Tidak melakukan sesuatu tidak menunjukkan bahwa sesuatu tersebut terlarang". At-tark yang dimaksud adalah ketika Nabi tidak melakukan sesuatu atau salaf tidak melakukan sesuatu, tanpa ada hadits atau atsar lain yang melarang untuk melakukan sesuatu yang ditinggalkan tersebut yang menunjukkan keharaman atau kemakruhannya. Jadi at-tark saja tidak menunjukkan keharaman sesuatu. At-tark saja jika tidak disertai nash lain yang menunjukkan bahwa al-matruk dilarang bukanlah dalil bahwa sesuatu itu haram, paling jauh itu menunjukkan bahwa meninggalkan sesuatu itu boleh. Sedangkan bahwa sesuatu itu dilarang tidak bisa dipahami dari at-tark saja, tetapi harus diambil dari dalil lain yang menunjukkan pelarangan, jika tidak ada berarti tidak terlarang dengan dalil at-tark saja. Perlu diketahui bahwa pengharaman sesuatu hanya bisa diambil dari salah satu di antara tiga hal ada 1 nahy larangan, atau 2 lafazh tahrim atau 3 dicela dan diancam pelaku suatu perbuatan dengan dosa atau siksa. Karena at-tark tidak termasuk dalam tiga hal ini berarti at-tark bukan dalil pengharaman. Karena itulah Allah berfirman ูˆูŽู…ูŽุขุกูŽุงุชูŽุงูƒูู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ููŽุฎูุฐููˆู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู†ูŽู‡ูŽุงูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ููŽุงู†ุชูŽู‡ููˆุง Maknanya "..Apa yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlahโ€ฆ" al Hasyr 7 Allah tidak menyatakan ูˆูŽู…ูŽุง ุขุชูŽุงูƒูู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู’ู„ู ููŽุฎูุฐููˆู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู ููŽุงู†ู’ุชูŽู‡ููˆู’ุง ุนูŽู†ู’ู‡ู "Apa yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dia dan apa yang ditinggalkannya maka tinggalkanlah." Al Imam Abu Sa'id ibn Lubb mengatakan "ููŽุงู„ุชู‘ูŽุฑู’ูƒู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู…ููˆู’ุฌูุจู ู„ูุญููƒู’ู…ู ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุชู’ุฑููˆู’ูƒู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุฑู’ูƒู ูˆูŽุงู†ู’ุชูููŽุงุกูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุฌู ูููŠู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุชูŽุญู’ุฑููŠู’ู…ูŒ ุฃูŽูˆู’ ู„ูุตููˆู’ู‚ู ูƒูŽุฑูŽุงู‡ููŠูŽุฉู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุชู’ุฑููˆู’ูƒู ููŽู„ุงูŽุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุณููŠู‘ูŽู…ูŽุง ูููŠู’ู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ูŒ ุฌูู…ู’ู„ููŠู‘ูŒ ู…ูุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุนู ูƒูŽุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู". "Jadi at-tark tidak memiliki akibat hukum apa pun terhadap al Matruk kecuali hanya kebolehan meninggalkan al Matruk dan ketiadaan cela dalam meninggalkan hal tersebut. Sedangkan pengharaman atau pengenaan kemakruhan terhadap al Matruk itu tidak ada padanya, apalagi dalam hal yang tentangnya terdapat dalil umum dan global dari syara' seperti doa misalnya". Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Syarh al Bukhari ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุจูŽุทู‘ูŽุงู„ู ููุนู’ู„ู ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู’ู„ู ุฅูุฐูŽุง ุชูŽุฌูŽุฑู‘ูŽุฏูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู‚ูŽุฑูŽุงุฆูู†ู โ€“ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู- ู„ุงูŽ ูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูุฌููˆู’ุจู ูˆูŽุชูŽุญู’ุฑููŠู’ู…ู "Ibnu Baththal mengatakan, Perbuatan Rasulullah jika tidak ada qarinah konteks, red lain โ€“demikian pula tark-nyaโ€”tidak menunjukkan kewajiban dan keharamanโ€™." Kitab Fathul Bari, 9/14 Jadi perkataan al Hafizh Ibnu Hajar "ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู" menunjukkan bahwa at-tark saja mujarrad at-tark tidak menunjukkan pengharaman. Perihal Tuntutan โ€œMana Dalilnya?โ€ Sebagian kalangan sering mengatakan ketika melihat orang melakukan suatu amalan, โ€œIni tidak ada dalilnya!โ€, dengan maksud tidak ada ayat atau hadits khusus yang berbicara tentang masalah tersebut. Pertama, dalam ushul fiqh dijelaskan bahwa jika sebuah ayat atau hadits dengan keumumannya mencakup suatu perkara, itu menunjukkan bahwa perkara tersebut masyru'. Jadi keumuman ayat atau hadits adalah dalil syar'i. Dalil-dalil umum tersebut adalah seperti ูˆูŽุงูู’ุนูŽู„ููˆุง ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ Maknanya โ€œDan lakukan kebaikan supaya kalian beruntungโ€ al Hajj 77 Jadi dalil yang umum diberlakukan untuk semua cakupannya. Kaidah mengatakan ุงู„ุนูŽุงู…ู‘ู ูŠูุนู’ู…ูŽู„ู ุจูู‡ู ูููŠู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุฌูุฒู’ุฆููŠู‘ูŽุงุชูู‡ู "Dalil yang umum diterapkan digunakan dalam semua bagian-bagian cakupannya." Ini sangat bertentangan dengan kebiasaan sebagian orang. Sebagian orang tidak menganggap cukup sebagai dalil dalam suatu masalah tertentu bahwa hal tersebut dicakup oleh keumuman sebuah dalil. Mereka selalu menuntut dalil khusus tentang masalah tersebut. Sikap seperti ini sangat berbahaya dan bahkan bisa mengantarkan kepada kekufuran tanpa mereka sadari. Karena jika setiap peristiwa atau masalah disyaratkan untuk dikatakan masyru' dan tidak disebut sebagai bid'ah bahwa ada dalil khusus tentangnya, niscaya akan tidak berfungsi keumuman Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak sah lagi berdalil dengan keumuman tersebut. Ini artinya merobohkan sebagian besar dalil-dalil syar'i dan mempersempit wilayah hukum dan itu artinya bahwa syari'at ini tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan tentang hukum peristiwa-peristiwa yang terus berkembang dengan berkembangnya zaman. Ini semua adalah akibat-akibat yang bisa mengantarkan kepada penghinaan dan pelecehan terhadap syari'at, padahal jelas penghinaan terhadap syari'at merupakan kekufuran yang sangat nyata. Kedua, dalam menetapkan hukum suatu permasalahan tidak diharuskan ada banyak dalil; berupa beberapa ayat atau beberapa hadits misalnya. Jika memang sudah ada satu hadits saja, misalnya, dan para mujtahid menetapkan hukum berdasarkan hadits tersebut maka hal itu sudah cukup. Ketiga, dalam beristidlal sering dijumpai adanya hadits yang diperselisihkan status dan kehujjahannya di kalangan para ulama hadits sendiri. Perbedaan penilaian terhadap suatu hadits inilah salah satu faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mujtahid. Seandainya bukan karena hal ini, niscaya para ulama tidak akan berbeda pendapat dalam sekian banyak masalah furuโ€™ dalam bab ibadah dan muโ€™amalah. Oleh karenanya, jika ada hadits yang statusnya masih diperselisihkan di kalangan para ahli maka sah-sah saja jika kita mengikuti salah seorang ulama hadits, apalagi jika yang kita ikuti betul-betul ahli di bidangnya seperti Ibnu Hibban, Abu Dawud, at-Tirmidzi, al Hakim, al Bayhaqi, an-Nawawi, al Hafizh Ibnu Hajar, as-Sakhawi, as-Suyuthi dan semacamnya. Karena memang menurut para ulama hadits sendiri, hadits itu ada yang muttafaq ala shihhatihi dan ada yang mukhtalaf fi shihhatihi Lihat as-Suyuthi, al-Hawi lil Fataawi 2/210, Risalah Bulugh al Maโ€™mul fi Khidmah ar-Rasul. Dari penjelasan ini diketahui bahwa jika ada sebagian kalangan yang mengira bahwa hanya mereka yang mengetahui hadits yang sahih dan hanya mereka yang memiliki hadits yang sahih, hadits yang ada pada mereka saja yang sahih dan semua hadits yang ada pada selain mereka tidak sahih, maka orang seperti ini betul-betul tidak mengerti tentang apa yang dia katakan. Orang seperti ini tidak tahu menahu tentang ilmu hadits dan para ahli hadits yang sebenarnya. Hati-hati Terperosok! Ada sebuah kaidah yang sangat penting dalam beristidlalโ€”orang yang tidak mengetahuinya bisa terperosok dalam kesesatan mengharamkan perkara yang dihalalkan oleh Allah atau sebaliknya. Al Hafizh al Faqih al Khathib al Baghdadi menyebutkan kaidah tersebut dalam kitab al-Faqih wal Mutafaqqih h. 132 ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽูˆูŽู‰ ุงู„ุซู‘ูู‚ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู’ู†ู ุฎูŽุจูŽุฑู‹ุง ู…ูุชู‘ูŽุตูู„ูŽ ุงู„ุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏู ุฑูุฏู‘ูŽ ุจูุฃูู…ููˆู’ุฑู" ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ "ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎูŽุงู„ูููŽ ู†ูŽุตู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ุฃูŽูˆู’ ุงู„ุณู‘ูู€ู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุชูŽูˆูŽุงุชูุฑูŽุฉู ููŽูŠูุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽู†ู’ุณููˆู’ุฎูŒุŒ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎูŽุงู„ูููŽ ุงู„ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนูŽ ููŽูŠูุณู’ุชูŽุฏูŽู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ุณููˆู’ุฎูŒ ุฃูŽูˆู’ ู„ุงูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ู„ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุฌููˆู’ุฒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู’ู†ูŽ ุตูŽุญููŠู’ุญู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูŽู†ู’ุณููˆู’ุฎู ูˆูŽุชูุฌู’ู…ูุนู ุงู„ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูู„ุงูŽููู‡ู "Jika seorang perawi yang tsiqah ma'mun terpercaya meriwayatkan hadits yang bersambung sanadnya, hadits itu bisa tertolak karena beberapa hal. Kemudian beliau mengatakan Kedua hadits tersebut menyalahi nash Al-Qurโ€™an, hadits mutawatir, sehingga dari sini diketahui bahwa hadits tersebut sebenarnya tidak memiliki asal atau mansukh telah dihapus dan tidak berlaku lagi. Ketiga hadits tersebut menyalahi ijma', sehingga itu menjadi petunjuk bahwa hadits tersebut sebenarnya mansukh atau tidak memiliki asal, karena tidak mungkin hadits tersebut sahih dan tidak mansukh lalu umat sepakat untuk menyalahinya". Orang yang tidak mengetahui kaidah ini bisa mengharamkan perkara yang dihalalkan oleh Allah, seperti sebagian orang yang mengaku mujtahid di masa kini yang mengharamkan bagi perempuan untuk memakai perhiasan emas yang berbentuk lingkaran adz-Dzahab al Muhallaq seperti cincin, gelang, kalung, anting dan semacamnya. Pengharaman itu dikarenakan ia menemukan beberapa hadits yang sahih menurutnya yang mengharamkan perhiasan emas tersebut. Padahal hadits-hadits tersebut sebenarnya menyalahi nash Al-Qur'an seperti firman Allah ุฃูŽูˆูŽ ู…ูŽู† ูŠูู†ูŽุดู‘ูŽุคูุง ูููŠ ุงู„ู’ุญูู„ู’ูŠูŽุฉู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฎูุตูŽุงู…ู ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูุจููŠู†ู Maknanya "Dan apakah patut menjadi anak Allah orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran". az-Zukhruf 18 Hadits-hadits tersebut juga menyalahi ijma' sehingga dengan begitu diketahui bahwa hadits tersebut telah dinasakh telah dihapus dan tidak berlaku lagi. Al Hafizh al Bayhaqi mengatakan ููŽู‡ุฐูู‡ู ุงู„ุฃูŽุฎู’ุจูŽุงุฑู ุฃูŽูŠู’ ูููŠู’ ุงู„ุฅูุจูŽุงุญูŽุฉู ูˆูŽู…ูŽุง ูˆูŽุฑูŽุฏูŽ ูููŠู’ ู…ูŽุนู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุชูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุจูŽุงุญูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุญูŽู„ู‘ููŠู’ ุจูุงู„ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจู ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกูุŒ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุฏู’ู„ูŽู„ู’ู†ูŽุง ุจูุญูุตููˆู’ู„ู ุงู„ุฅูุฌู’ู…ูŽุงุนู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุจูŽุงุญูŽุชูู‡ู ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุณู’ุฎู ุงู„ุฃูŽุฎู’ุจูŽุงุฑู ุงู„ุฏู‘ูŽุงู„ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุชูŽุญู’ุฑููŠู’ู…ูู‡ู ูููŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุฎูŽุงุตู‘ูŽุฉู‹ "Jadi hadits-hadits ini dan semacamnya menunjukkan dibolehkannya berhias dengan emas bagi perempuan, dan kita menjadikan adanya ijma' atas kebolehan permpuan memakai perhiasan emas sebagai dalil bahwa hadits-hadits yang mengharamkan emas bagi perempuan secara khusus telah dinasakh" Lebih lanjut lihat Syekh Abdullah al Harari, Sharih al Bayan, 2/20-22. Anehnya, di sisi lain, orang-orang semacam ini ketika bertemu dengan hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka, dengan mudah mereka mengklaim bahwa hadits tersebut mansukh atau khusus berlaku bagi Nabi tanpa ada dalil yang menunjukkan nasakh atau-pun khushushiyyah. Tetapi dalam hal yang oleh para ulama ditegaskan ada nasikh mereka tidak mau mengikutinya sambil berlagak menegakkan dan membela sunnah Nabi. Teladan Toleransi Ulama Salaf Dalam bidang furuโ€™ tidak pernah salah seorang dari para ulama mujtahid mengklaim bahwa dirinya saja yang benar dan selainnya sesat. Mereka tidak pernah mengatakan kepada mujtahid lain yang berbeda pendapat dengan mereka bahwa anda sesat dan haram orang mengikuti anda. Umar bin al Khaththab tidak pernah mengatakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib ketika mereka berbeda pendapat, demikian pula sebaliknya Ali tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Umar. Demikian pula para ulama ahli ijtihad yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafiโ€™i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu al Mundzir, Ibnu Jarir ath-Thabari dan lainnya. Mereka juga tidak pernah melarang orang untuk mengikuti mazhab orang lain selama yang diikuti memang seorang ahli ijtihad. Mereka juga tidak pernah berambisi mengajak semua umat Islam untuk mengikuti pendapatnya. Mereka tahu betul bahwa perbedaan dalam masalah-masalah furuโ€™ telah terjadi sejak awal di masa para sahabat Nabi dan mereka tidak pernah saling menyesatkan atau melarang orang untuk mengikuti salah satu di antara mereka. Dalam berbeda pendapat, mereka berpegang pada sebuah kaidah yang disepakati ู„ุงูŽ ูŠูู†ู’ูƒูŽุฑู ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽู„ูŽูู ูููŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูู†ู’ูƒูŽุฑู ุงู„ู’ู…ูุฌู’ู…ูŽุนู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู โ€œTidak diingkari orang yang mengikuti salah satu pendapat para mujtahid dalam masalah yang memang diperselisihkan hukumnya mukhtalaf fih di kalangan mereka, melainkan yang diingkari adalah orang yang menyalahi para ulama mujtahid dalam masalah yang mereka sepakati hukumnya mujmaโ€™ alayhi.โ€ Lihat as-Suyuthi, al-Asybaah wa an-Nazha-ir, h. 107, Syekh Yasin al Fadani, al-Fawa-id al-Janiyyah, h. 579-584 Maksud dari kaidah ini bahwa jika para ulama mujtahid berbeda pendapat tentang suatu permasalahan, ada yang mengatakan wajib, sunnah atau makruh, haram, atau boleh dan tidak boleh, maka tidak dilarang seseorang untuk mengikuti salah satu pendapat mereka. Tetapi jika hukum suatu permasalahan telah mereka sepakati, mereka memiliki pendapat yang sama dan satu tentang masalah tersebut maka tidak diperbolehkan orang menyalahi kesepakatan mereka tersebut dan mengikuti pendapat lain atau memunculkan pendapat pribadi yang berbeda. Wallahu a'lam. Ustadz Nur Rohmad, Dewan Pakar Aswaja NU Center PCNU Kabupaten Mojokerto OhSantri ~ Soal Tanya Jawab Aswaja Kelas 8 BAB VII Materi Sunnah & Bidโ€™ah. Mari kita pelajari bersama-sama beberapa jumlah butir soal beserta jawabannya di bawah ini. Kumpulan soal ASWAJA atau Ke-NU-n berikut ini juga sangat cocok untuk dijadikan soal latihan dalam olimpiade. Kumpulan Materi ASWAJA MTs Semester Ganjil Dan Genap Untuk Kelas 8 Kumpulan Soal ASWAJA MTs Semester Ganjil Dan Genap Untuk Kelas 8 Soal Tanya Jawab Aswaja Kelas 8 BAB VII Materi Sunnah & Bidโ€™ah Sunnah menurut bahasa adalah? Jalan yg biasa dilalui Sinonim dari As-Sunnah adalah? Al-Hadits Sunnah menut istilah adalah? Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad berupa qaul, fiโ€™li, Taqrir Apa hubungan ANtara Sunnah dan Bidโ€™ah? Bidโ€™ah adalah hal yang berbanding terbalik dg sunnah. Bidโ€™ah menurut bahasa artinya? Sesutu yang diadakan tanpa contoh Bidโ€™ah menurut istilah adalah? Segala sesuatu yang berupa perbuatan Syarโ€™i yang belum ada pada Zaman Nabi perbuatan tersebut tidak dicantumkan dalam al-Qurโ€™an dan Hadits / sunnah Bidโ€™ah terbagi menjadi berapa? 2. 1 Bidโ€™ah Khasanah [baik] 2 Bidโ€™ah Dolalah [buruk] Bidโ€™ah dikatakan sesat apabila? Menentang sunnah dan Al-Qurโ€™an Bidโ€™ah Khasanah apabila? Tidak menentang al-Qurโ€™an dan SUnnah Nabi. Contoh seperti berdzikir / tahlilan dll. Al-Qurโ€™an adalah? Wahyu Allah yg diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara Jibril secara mutawatir Selesainya pembukuan / penulisan al-Qurโ€™an pada masa? Khalifah Utsman bin Affan Jelaskan sunah secara etimologis secara bahasa yang artinya...? Jawabbarang siapa membiasakan sesuatu yang baik didalam islam, maka ia menerima pahalanya dan pahala orang-orang sesudahnya yang mengamalkannya. Jelaskan pengertian bid`ah...? Jawabpengertian bid`ah secara bahasa berarti sesuatu yang diadakan tampa contoh. Arti dari sabda rosulullah di atas adalah...? Jawabbarang siapa membiasakan sesuatu yang baik didalam islam, maka ia menerima pahalanya dan pahala orang-orang sesudahnya yang mengamalkannya. Secara etimologis sunah bisa dilihat dari 3 bidang ilmu yaitu...? Jawab ilmu hadist, ilmu fiqh, dan ushul fiqh. Sunah menurut para ahli hadis identik dengan hadis yaitu...? Jawabseluruh yang disandarkan pada nabi muhamad saw baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan atau sifatnya sebagai manusia biasa akhlaknya apakah itu sebelum maupun setelah diangkat menjadi rosul. Sunah menurut para ahli usholfigh adalah...? Jawabsegala yang diriwayatkan dari nabi saw berupa perbuatan perkataan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum. Sedangkan sunah menut para ahli fiah, disamping pengertian yang dikemukakan para ulama ushul fiah diatas juga dimaksutkan sebagai salah satu hukum takhlifi yang mengandung pengertian...? jawabpengertian perbuatan yang apa bila dikerjan mendapat pahala dan apa bila di tinggalkan tidak mendapat dosa. Sunah dengan arti hadis nabawi adalah istilah...? Jawabistilah orang-orang musstholahhul hadist sedangkan sunah dengan arti sebagai perbandingan fardlu adalah istilah orang-orang ahli fiqih dan ushul fiqih. Pengertian sunah khulafar rasyidin sahabat adalah...? Jawabhal hal yang oleh rosululah saw tidak melakukan sama sekali dan tidak memerintahkan dengan perintah tertentu. Berdasarkan devinisi sunah yang di kemukakan para ulama di atas sunah yang menjadi sumber ke2 hukum islam itu ada 3 macam yaitu...? Jawab fi`liyyah. B. Sunah qouliah. C. Sunah taqrriyyah Sunah fi`liyah yaitu...? Jawabsunah fi`liyyah yaitu perbuatan yang dilakukan nabi saw yang dilihat atau diketahui dan disampaikan para sahabat kepada orang lain. Sunah qualiah yaitu...? Jawabsunah qouliyah yaitu ucapan nabi saw yang didengar oleh dan di sampaikan seorang atau beberapa sahabat kepada orang lain. Sunah taqririyyah yaitu...? Jawabsunah taqririyyah yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan dihadapan atau di sepengetahuan nabi saw tetapi nabi hanya diam dan tidak mencegahnya Sesuatu yang tidak menentang salah satu dari al-qur`an...? Jawabsunah nabi, atsar dan ijma. Bid`ah adalah...? jawabsesuatu perkerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada jaman rosululah saw Seluruh kamus mengatakan bahwa bid`ah itu dalam bahasa arab adalah...? jawabsuatu barang yang baru didapatkan dengan tidak ada contoh terlebih dahulu. Didalam kitab suci al-qur`an, terdapat ayat yang mengatakan bahwa tuhan itu โ€™badi`` yang artinya...? Jawabpencipta langit dan bumi. Sunah dengan arti sebagai perbandingan fardlu adalah...? Jawab istilah orang-orang ahli fiqih dan ushul fiqih. Dapat di ambil kesimpulan bahwa arti bid`ah adalah...? Jawab bid`ah adalah perkerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada jaman rosululah saw. Syekh izzudin bin abd. Salah seorang ulama besar dalam lingkungan mazhab syafi`i wafat pada tahun...? Jawab660H . Bid` ah itu terbagi menjadi 2 yaitu bid`ah.........dan........? Jawabbid`ah dholalah bid`ah sesat dan bid`ah hasanah bid`ah terpuji. Bid`ah terpuji adalah...? Jawabbid`ah terpuji hasanah adalah perkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang kitabullah. Bid`ah tercela adalah...? Jawabbid`ah tercela dhlalah adalah perkerjaan keagamaan yang berlainan atau menentang kitabullah. Perkerjaan yang baru itu ada 2 macam yaitu...? Jawabpekerjaan keagamaan yang menentang atau belarian dengan al-qur`an, sunah nabi, atsar dan ijma, sedangkan perkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang salah satu dari al-qur`an, sunah nabi, atsar, dan ijma. Segala yang diriwayatkan dari nabi saw berupa....? Jawabperbuatan, perkataan dan ketetapan. Pekerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang salah satu dari yg tersebut diatas adalah...? Jawabbid`ah hasanah. Bid`ah hasanah yaitu...? Jawabbid`ah terpuji. Bid'ah dholalah yaitu...? Jawabperkerjaan keagamaan yang berlainan atau menentang kitabullah. Bidah hasanah yaitu...? Jawabperkerjaan keagamaan yang baik yang tidak menentang kitabullah. Tidak semua bidah itu dolalah tetapi ada juga bidah hasanah bidah baik sebutkan contoh nya...? Jawabmengumpulkan ayat-ayat al-qur`an, membukukan fiqih dan tafsir al-quran, merayakan hari-hari besar islam, membangun madrasah-madrasah atau sekolah- sekolah. Baca Juga Tanya Jawab Soal Aswaja 8 BAB I Materi Tentang Konsep Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Tanya Jawab soal Aswaja Kelas 8 BAB II Materi Tentang Ulama Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Ijtihad & Istinbath Kelas 8 BAB IV Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Taqlid dan Ittibaโ€™ Kelas 8 BAB V Soal Tanya Jawab Aswaja Materi Madzhab & Sistem Bermadzhab Kelas 8 BAB VI Semoga Soal tanya jawab di atas dapat menambah pengetahuan Anda ya Sob. Terimakasih atas kunjungannya. D Pertanyaan Banyak pembicaraan tentang bid'ah, maka diantara kalangan masyarakat ada yang berkata bahwasanya bid'ah dibagi menjadi 2, dan diantara masyarakat ada yang tidak membagi dan menjadikan setiap bid'ah adalah suatu kesesatan, maka kami mohon penjelasan hakikat bid'ah menurut ahlussunnah dan jama'ah dengan menyebut dalil-dalil syar'i menurut madzhab yang empat, disertai juga penjelasan makna bid'ah secara bahasa dan istilah? Jawaban ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ู„ู‡ ุงู„ู†ุนู…ุฉ ูˆู„ู‡ ุงู„ูุถู„ ูˆู„ู‡ ุงู„ุซู†ุงุก ุงู„ุญุณู† ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุจุฑ ุงู„ุฑุญูŠู… ูˆุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ุงู„ู…ู‚ุฑุจูŠู† ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุฌู…ูŠุน ุฅุฎูˆุงู†ู‡ ุงู„ู†ุจูŠูŠู† ูˆุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู† ูˆุนู„ู‰ ุกุงู„ ูƒู„ ูˆุตุญุจ ูƒู„ ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ุตุงู„ุญูŠู†ุŒ ุฃู…ุง ุจุนุฏ Semoga apa yang akan dipaparkan setelah ini tidak menimbulkan perselisihan antara umat islam, melainkan hanya memaparkan apa yang dipahami oleh ulama salaf mayoritas, jika anda tidak sepakat apa yang akan dipaparkan setelah ini tidak membuat kita saling bermusuhan dan caci maki, mari bekerjasama dalam suatu yang kita sepakati bersama dan berlapang dada/ menghormati atas perbedaan yang ada. Pengertian Bid'ah Secara bahasa bid'ah adalah segala sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya, dan secara syari'at bid'ah adalah sesuatu yang baru yang tidak ada dalil dari Al-Qur'an dan sunnah, sebagaimana disebutkan oleh pakar bahasa yang terkenal Al-Fuyumi didalam "Al-Mishbah Al-Muniir", dan disebutkan pula oleh Al-Hafidz Muhammad Murtadha Az-Zaidi di "Taaj Al-'Uruusy. Maka dalam "Al-Mishbah Al-Muniir" hal 138 Allah mewujudkan ุฃุจุฏุน makhluk dan menciptakanya tanpa ada contoh, kata ุฃุจุฏุน selain mewujudkan juga digunakan untuk suatu keadaan yang berbeda dari sebelumnya yang dikenal dengan kata bid'ah, kemudian penggunaan kata ini menjadi sering digunakan untuk suatu pengurangan atau penambahan dalam agama, tetapi kadang sebagiannya tidak makruh sehingga disebut sebagai bid'ah mubah yaitu suatu perkara yang dapat ditemukan asal hukumnya dalam syari'at atau terdapat didalamnya kemashlahatan untuk mencegah kemudharatan. Dalam kamus "Al-Wajiiz" jilid 1 hal. 45 segala sesuatu yang diwujudkan dalam agama dan lain sebagainya atau dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Pembagian Bid'ah Ibn Al-Araby berkata "Tidaklah bid'ah dan sesuatu yang baru itu tercela, dan sesungguhnya bid'ah atau sesuatu yang baru itu tercela ketika menyelisihi sunnah, dan sesuatu yang baru itu juga dapat menjadi tercela ketika dapat menjerumuskan kepada kesesatan". Imam An-Nawawi berkata didalam bukunya "Tahdzib Al-Asma wa Al-Lughaat 22/3, "Bid'ah dalam syari'at adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู…, dan dibagi menjadi baik dan buruk, Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdul Salam di akhir buku "Al-Qowaid" berkata "Bid'ah terbagi menjadi wajib, haram, mandub, makruh, mubah. Caranya dengan menimbang dengan timbangan syari'at, apabila sesuatu yang baru itu masuk dalam katagori wajib maka menjadi wajib dan begitu juga pembagian yang lainnya. Pembagian bid'ah menjadi 2 yaitu bid'ah dholalah dan bid'ah huda, dholalah apabila menyelisihi Al-Qur'an dan sunnah dan yang huda atau hasanah adalah yang sejalan dengan Al-Qur'an dan sunnah. Pembagian ini berasal dari pemahaman hadits Bukhori dan Muslim dari 'Aisya ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง dan beliau berkata Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… bersabda ู…ูŽู† ุฃุญุฏุซ ููŠ ุฃู…ุฑู†ุง ู‡ุฐุง ู…ุง ู„ูŠุณ ู…ู†ู‡ ูู‡ูˆ ุฑุฏ "Barang siapa mewujudkan sesuatu dalam perkara kami yang tidak termasuk dalam perkara yang kami sepakati maka sesuatu tersebut tertolak" Maka rasulullah memberi pemahaman kepada kita dengan kata ู…ุง ู„ูŠุณ ู…ู†ู‡ bahwasanya suatu perkara yang baru itu akan tertolak apabila bertentangan dengan syari'at dan sesatu yang baru yang sejalan dengan syari'at maka tidak tertolak. Pembagian diatas juga diperoleh dari pemahaman suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohihnya dari haditsnya dari Jarir bin Abdillah Al-Bajli ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ beliau berkata Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… Bersabda ู…ู† ุณู† ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุณู†ุฉ ุญุณู†ุฉ ูู„ู‡ ุฃุฌุฑู‡ุง ูˆุฃุฌุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุจู‡ุง ุจุนุฏู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฃู† ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฃุฌูˆุฑู‡ู… ุดู‰ุกุŒ ูˆู…ู† ุณู† ููŠ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ุณู†ุฉ ุณูŠุฆุฉ ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ูˆุฒุฑู‡ุง ูˆูˆุฒุฑ ู…ู† ุนู…ู„ ุจู‡ุง ู…ู† ุจุนุฏู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฃู† ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฃูˆุฒุงุฑู‡ู… ุดู‰ุก "Barang siapa yang memulai dalam islam sunnah hasanah maka akan mendapat pahala dan pahala dari yang melakukanya setelahnya dengan tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan barang siapa yang memulai dalam islam sunnah sayyi'ah maka dia akan mendapatkan dosa dan dosa dari orang yang melakukannya setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun". Dalam shohih Bukhori di kitab sholat teraweh "Ibn Syihab berkata maka ketika Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… wafat dan manusia dalam suatu keadaan", Al-Hafidz ibn hajar berkata "keadaan tersebut maksudnya adalah umat islam dalam keadaan tidak berjama'ah dalam sholat teraweh". kemudian Ibn Syihab berkata selanjutnya "Begitulah keadaan umat islam dalam melaksanakan sholat teraweh sampai masa kholifah Abu Bakar ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ dan menjadi berjama'ah bersumber dari kholifah Umar ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡". Dalam Al-Bukhori sebagai lanjutan dari perkara diatas dari Abdurrahman bin Abd Al-Qari beliau berkata aku keluar bersama Umar bin Al-Khatab disuatu malam dibulan ramadhan ke masjid, ternyata umat islam terbagi dan berpencar-pencar melaksanakan sholat sendiri-sendiri, maka Umar berkata aku berpendapat apabila aku kumpulkan semua umat muslim dengan dipimpin satu qori' maka kiranya ini menjadi contoh yang baik, kemudian umar mengumpulkan mereka dalam jama'ah dengan diimami oleh Ubay bin Ka'b, kemudian aku keluar lagi setelahnya dengan Umar di suatu malam yang lain dan umat islam melaksanakan sholat teraweh dengan berjama'ah dan Umar berkata inilah sebaik-baiknya bid'ah. Maka apabila dikatakan bukankah Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Daud ูˆุฅูŠุงูƒู… ูˆู…ุญุฏุซุงุช ุงู„ุฃู…ูˆุฑ ูุฅู† ูƒู„ ู…ุญุฏุซุฉ ุจุฏุนุฉ ูˆูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ "Kalian jauhilah perkara-perkara yang baru, maka sesungguhnya sesuatu yang baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat". Maka jawabannya adalah lafadz hadits ini menggunakan lafadz umum ูƒู„ tetapi maknanya dipahamhi secara khusus, karna lafadz umum tersebut dibatasi pemahamanya atau dikhususkan dengan 2 dalil yang telah disebutkan sebelumnya, maka maksud bid'ah di hadits ini adalah segala sesuatu yang baru yang bertentangan dengan Al-Qur'an atau sunnah atau ijma' atau atsar. Apabila ditinjau secara rinci maka bid'ah dibagi menjadi 5 hukum, yaitu wajib, mandub, mubah, makruh, haram sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama-ulama 4 madzhab Madzhab Hanafi Syeikh Ibn 'Abidin Al-Hanafi berkata "Bid'ah bisa menjadi wajib seperti membuat bukti-bukti untuk menolak kelompok sesat dan belajar nahwu yang digunakan untuk memahammi Al-Qur'an dan sunnah, menjadi mandub seperti mengadakan sekolahan dan setiap perbuatan baik yang tidak ada di generasi awal, menjadi makruh seperti menghias masjid, menjadi mubah seperti menciptakan makanan dan minuman yang enak dan membuat baju. Badruddin Al-'Aini di Syarhnya tentang shohih Al-Bukhori 126/11 beliau menjelaskan perkataan Umar bin Al-Khatab tentang sebaik-baiknya bid'ah. Apabila bid'ah berada dalam ruang lingkup kebaikan dan syari'at maka menjadi bid'ah hasanah, dan apabila bid'ah berada dalam ruang lingkup keburukan dalam pandangan syari'at maka menjadi bid'ah mustaqbihah. Madzhab Maliki Muhammad Az-Zarqoni Al-Maliki di dalam Syarh Muwatho' 238/1 penjelasan beliau tentang perkataan Umar bin Al-Khatab "sebaik-baiknya bid'ah" maka beliau menamakannya dengan bid'ah karena Rasulullah belum mensunnahkan berjama'ah untuk sholat teraweh dan pula tidak di masa Abu Bakar As-Shiddiq, menunjukan bahwasanya ia adalah suatu perkara baru yang tidak ada contoh sebelumnya, dan dalam pengertian syari'at adalah sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah, kemudian terbagilah bid'ah menjadi 5 hukum. Syeikh Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi Al-Maliki di dalam kitabnya "ุงู„ู…ุนูŠุงุฑ ุงู„ู…ุนุฑุจ" berkata "para pemeluk madzhab maliki, mereka mengingkari adanya bid'ah secara umum, melainkan penentuan oleh mereka bahwa bid'ah terbagi menjadi 5 bagian", kemudian menyebutkan hukum yang lima dan contohnya masing-masing kemudian beliau berkata "maka yang benar dalam memahami bid'ah adalah apabila bid'ah disaring dengan kaidah-kaidah syari'at maka ketika ada kaidah yang sesuai maka ketemu lah hukumnya, setelah dipahami sampai sini maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan Rasulullah setiap bid'ah itu sesat adalah ungkapan umum yang harus dibatasi keumumannya atau dikhususkan dalam memahaminya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama-ulama terdahulu. Madzhab Syafi'i Imam Syafi'i a. Imam Syafi'i berkata segala perkara yang baru ada dua contoh ada yang menyelisihi Al-Qur'an, sunnah, ijma' dan astar maka disebutlah sebagai bid'ah yang sesat, dan yang satu lagi adalah suatu hal yang baru yang termasuk dalam kebaikan dan tidak ada khilaf karna tidak bertentangan dengan islam maka disebutlah sebagai bid'ah yang tidak buruk. diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di Manaqib As-Syafi'i 469/1, dan disebutkan juga oleh Ibnu Hajar di Fath Al-Baari 267/13. b. Al-Hafidz Abu Nu'aim di dalam kitabnya Hiliyatul Auliya 9/76 dari Ibrahim bin Al-Junaid beliau berkata Harmalah bin yahya berkata" saya mendengan Muhammad bin Idris As-Syafi'i berkata bahwa bid'ah terdiri dari 2, terpuji dan tercela, jika sejalan dengan sunnah maka dia dikatakan bid'ah terpuji dan jika bertentangan dengan sunnah maka menjadi tercela dan berhujjah dengan perkataan Umar bin Al-Khatab. Abu Hamid Al-Ghozali di bukunya Ihya Ulum Ad-Diin, tentang adab makan 3/2 berkata "Jika segala yang diadakan setelah Rasulullah dikatakan bid'ah, maka tidak setiap yang bid'ah itu dilarang tetapi menjadi terlarang apabila bertentangan dengan sunnah dikarnakan ada kaitanya dengan syari'at dan terdapat 'illatnya, maka sesuatu yang baru itu bahkan bisa diperluka ketika adanya perubahan-perubahan sebab". Imam An-Nawawi didalam Syarh Shohih Muslim 154/6-155 berkata sabda Rasulullah tentang setiap bid'ah itu sesat adalah lafazd umum yang harus dipahami secara khusus, karena itu ulama membagi bid'ah menjadi 5 bagian, menjadi wajib seperti menyusun ilmu kalam untuk membantah kelompok-kelompok sesat, menjadi mandub seperti menyususn buku-buku keilmuan dan membangun sekolah, Mubah seperti memakan makanan apapun dan bermacam-macam, makruh dan haram telah jelas. Imam Nawawi juga berkata di syarh shohih Muslim 226/16-227 sabda Rasulullah tentang ู…ู† ุณู† maksudnya adalah memulai dengan sesuatu yang baik-baik, dan larangan untuk memulai dengan sesuatu yang buruk. Dengan hadits ู…ู† ุณู† menjadi hadits yang membatasi keumuman ูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ sehingga lafadznya berbentuk umum tetapi harus dipahami secara khusus. Madzhab Hanbali Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Abi Al-Fath berkata dalam kitabnya "ุงู„ู…ุทู„ุน ุนู„ู‰ ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ู…ู‚ู†ุน" di bab Thalaq "bid'ah adalah amalan yang tidak ada contoh sebelumnya. Bid'ah terbagi menjadi 2, terpuji dan tercela, dan hukumnya dibagi menjadi 5 sebagaimana hukum taklif yang lima". Kesimpulan Maka dari pemaparan diatas, menjadi jelas bahwa ulama salaf mayoritas sepakat bid'ah terdiri dari 2, yaitu bid'ah mahmudah terpuji dan mazdmumah tercela, dan bid'ah memiliki 5 hukum seperti hukum taklif yang lima. Sumber

pertanyaan tentang bid ah